Saturday, 14 May 2016

Runtuhnya Kewibawaan Pendidikan yang Berorientasi Kepada Nilai

Zia Ul Haq     20:13    

OLEH: IMRON ROSYADI

Mencermati kecelakaan terbesar sepanjang sejarah Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) Tahun 2016 yang dialami oleh SMA Negeri 3 Semarang, Jawa Tengah, dimana sejumlah 380 siswa reguler jurusan IPA tidak ada yang lolos satupun dalam penjaringan nasional calon mahasiswa di Perguruan Tinggi Negeri.


Masing-masing melemparkan tanggung jawab dan saling menyalahkan satu sama lain. Pihak Panitia SNMPTN menuduh SMA 3 Semarang melakukan kesalahan fatal dengan tidak menginputkan salah satu nilai di beberapa semester, yang seharusnya dalam peraturan penjaringan SNMPTN melalui sistem Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS).

Sedangkan pihak SMA 3 Semarang menuduh Panitia SNMPTN tidak profesional dalam mengelola sistem PDSS, dimana seharusnya ketika ada salah satu mata pelajaran yang tidak dientry ada "Early Warning System" atau semacam peringatan sebelum database disubmit akhir.

Siapa yang menyangka Peraih Medali Emas Olimpiade Sains Nasional tidak Lolos SNMPTN, Siapa yang menyangka sekolah favorit di Kota Semarang bahkan mungkin di Jawa Tengah sebagian besar siswanya tidak lolos SNMPTN. Siapa yang menyangka putra-putri terbaik dengan segudang prestasi di SMA 3 Semarang tidak lolos SNMPTN karena sebuah sistem?

Mari kita mendudukkan permasalahan dengan jernih. Bahwa SMA 3 Semarang menerapkan sistem pembelajaran berbasis SKS (Sistem Kredit Semester) seperti perkuliahan. Dalam hal ini menggunakan Sistem SKS Discontinue atau Sistem SKS on/off.

Dalam sistem ini memungkinkan siswa untuk memilih mata pelajaran di salah satu semester, tetapi di semester lain mapel tersebut tidak muncul. Karena sudah diambil di semester tersebut.
Pihak Panitia berdalih, jika kesalahan ada pada sistem, tidak mungkin sekolah lain yang menggunakan sistem SKS yang sama bisa aman dan lolos SNMPTN.

Sementara Pihak SMA 3 Semarang tetep ngotot seharusnya ada peringatan jika ada kesalahan input dalam sistem, sehingga bukan memproses kesalahan di final penyelenggaraan SNMPTN tetapi bisa dicegah dengan peringatan pada proses entry data di PDSS.

Entah siapa yang benar dan siapa yang salah, yang jelas sejumlah 380 siswa kehilangan salah satu haknya untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri Favorit yang mereka dambakan.

Meski masih ada 2 proses penjaringan PTN lagi yaitu Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dan Ujian Masuk (UM) di masing-masing Perguruan Tinggi Negeri, tetapi kekecewaan para siswa semakin memuncak, mereka seakan putus asa tiga tahun mengejar nilai, si-sia hanya karena kesalahan sebuah sistem.

Apakah pendidikan di Indonesia akan terus seperti ini? Yang dipentingkan adalah nilai, nilai, nilai, dan nilai. Cerdas saja tidak cukup tapi perlu ketelitian dan keterampilan.

Jangan salahkan para siswa ketika pengumuman kelulusan mencorat-coret seragam sekolahnya, konvoi ugal-ugalan, pesta seks bebas, pesta minuman keras, dan segenap perilaku negatif lain dalam merayakan berakhirnya masa studi di jenjang Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan.

Ini perlu evaluasi besar-besaran terhadap sistem pendidikan di Indonesia. Siswa sekarang sudah tidak ada rasa hormatnya kepada guru. Guru sekarang banyak yang sudah tidak profesional, tidak telaten, tidak sabar, dan tidak inovatif. Orang tua sekarang banyak yang tidak mempedulikan perkembangan pendidikan anaknya ketika di sekolah.

Maka pendidikan di Indonesia untuk saat ini masih jauh dari apa yang dulu disampaikan oleh Bapak Pendidikan Nasional yaitu Ki Hajar Dewantara yang berbunyi:

"Pendidikan yaitu segala daya upaya untuk memajukan budi pekerti (karakter dan kekuatan batin), pikiran (intellect) serta jasmani anak-anak selaras dengan alam dan masyarakatnya.”

Tegal, 14 Mei 2016

*Penulis adalah guru SD di Kabupaten Tegal

0 comments :

© 2011-2014 Informasi Pendidikan Kita. Designed by Bloggertheme9. Powered by Blogger.