Monday, 2 May 2016

Menyapa Menteri Anies Baswedan di Hari Pendidikan

Zia Ul Haq     01:24    

OLEH: AHMAD BAHRUDDIN

Kalau Paulo Freire yang lahir pada tanggal 19 September 1921 disebut-sebut sebagai tokoh pendidikan kritis dengan bukunya yang sangat terkenal Pendidikan Kaum Tertindas (Pedagogy of the Oppressed), Ki Hajar Dewantara yang lahir 31 tahun sebelumnya justeru besar karena melawan/mengkritisi pemerintah kolonial Belanda yang menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri kita sendiri yang telah dirampas kemerdekaannya, muncullah tulisan berjudul Als Ik Eens Nederlander Was yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Seandainya Aku Seorang Belanda. Suatu tulisan yang sangat terkenal dan membakar jenggot pemerintah Belanda sehingga membuat Ki Hajar Dewantara dibuang ke Bangka.

Kalau Ivan Illich yang lahir 36 tahun setelah Ki Hajar Dewantara sangat kritis pada konsep persekolahan yang kapitalistik dan terjebak pada komersialisasi pengetahuan, dengan bukunya yang sangat terkenal, Deschooling Society, yang diterjemahkan oleh Sonny Keraf dengan; Bebaskan Masyarakat dari Belenggu Sekolah, maka Ki Hajar Dewantara sudah mengkritisinya sekaligus mengajukan alternatif konsep 'taman' dan lahirlah 'Taman Siswa'.

Kalau Jean Piaget, Lev Vygotsky dan lain-lain yang terkenal dengan pemikiran constructivism-nya yang memposisikan siswa sebagai subyek yang membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal, pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan, dan mengharuskan guru untuk memfasilitasi proses pembelajaran, Ki Hajar Dewantara juga sudah mengajukan konsep yang komprehensif yang amat sangat terkenal; Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani. Artinya: dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan, di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide, dan di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik.


Artinya Ki Hajar Dewantara adalah praktisi sekaligus pemikir besar pendidikan yang sangat visioner bahkan berkesesuaian dengan era digital eranya para millennialis ini.

Anak-anak negeri sebagai warga penghuni era digital ini harus didorong untuk mengembangkan imajinasinya, didorong berfikir kritis transformatif pada segala hal yang dihadapi. Anak-anak harus diberi kesempatan untuk menyampaikan gagasan-gagasan inovatifnya, dan mendiskusikannya dengan teman-temannya. Negara harus memfasilitasi kebutuhan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan basis kecerdasan anak. Sehingga kedepan anak akan paham dan kenal potensi diri dan lingkungannya serta berkemampuan optimal mengelola sumberdaya lingkungannya (Local Living Context Based Learning).

Dalam berbagai kesempatan saya sangat setuju dengan ide mendikbud Anies Baswedan dg perubahan paradigma pendidikan. Beliau sampaikan (sebagaimana disampaikan oleh Harris Iskandar dirjen PAUD dan DIKMAS Kemendikbud) bahwa sudah saatnya kita semua mengubah metafor. Sistem pendidikan kita jangan lagi dilihat sebagai sistem industri, pabrik, production model, input-proses-output, tapi ibarat sebuah taman yang menyenangkan, seperti konsepsi Ki Hajar. Agak mirip dengan Kent Robinson yang memilih metafornya sistem pertanian organik. Untuk mengelola 'taman' yang baik, maka kita perlu merawat kesehatan tanaman dan tanahnya serta menjaga ekologi yang sesuai. Keren 'kan?!

Sayang, pada kesempatan hardiknas hari ini mendikbud Anies Baswedan sepertinya hanyut dengan ke-'berhasil'-an dirinya yang sudah mengembara jauh meninggalkan kampungnya. Beliau cenderung meromantisir 'kisah' si anak kampung yang pergi jauh meninggalkan kampung nya dan ketika kembali sudah menjadi 'orang' yang berilmu tinggi barangkali juga dengan jabatan tinggi, meskipun barangkali, sudah tidak kenal lagi kampung halamannya apalagi sampai detail potensi kampungnya sehingga bisa mengelola dan memberdayakan rakyat dan kampungnya sendiri.

Sayang, kawan Anies hanya menyapa mereka yang sedang mengembara menuntut ilmu, atau barangkali yang sedang menikmati beasiswa dari negara, dan sama sekali tidak menyapa anak-anak negeri anak-anak pedalaman yang tidak mendapatkan dukungan dari negara, yang sedang bergulat dengan sumberdaya desanya yang mestinya menjadi tumpuan sekaligus pertaruhan penyelamatan bangsa ini dari ketergantungan dan keterpurukan.

Selamat Maulid Ki Hajar Dewantara, Selamat Hari Pendidikan, dan selamat menghadapi tantangan besar yakni cara berfikir aparat negara yang kadang-kadang masih terbelakang.

Salam,
Bahruddin
Kalibening, 2 Mei 2016

*Penulis adalah penggerak Pendidikan Alternatif Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah Salatiga. Sumber: dinding facebook Ahmad Bahruddin.

0 comments :

© 2011-2014 Informasi Pendidikan Kita. Designed by Bloggertheme9. Powered by Blogger.