Monday, 21 December 2015

Pondok Modern Gontor

Zia Ul Haq     00:42    

Gontor adalah sebuah desa yang terletak lebih kurang 3 KM sebelah timur Tegalsari dan 11 KM ke arah tenggara dari kota Ponorogo. Pada saat itu Gontor masih merupakan kawasan hutan yang belum banyak didatangi orang. Bahkan hutan ini dikenal sebagai tempat persembunyian para perampok, penjahat, penyamun, pemabuk, dan sebagainya.

Di tempat inilah Kyai muda Sulaiman Jamaluddin diberi amanat oleh mertuanya untuk merintis pondok pesantren seperti Tegalsari. Dengan 40 santri yang dibekalkan oleh Kyai Khalifah kepadanya, maka berangkatlah rombongan tersebut menuju desa Gontor untuk mendirikan Pondok Gontor.
Santri Gontor
KILAS SEJARAH

Pondok Gontor yang didirikan oleh Kyai Sulaiman Jamaluddin ini terus berkembang dengan pesat, khususnya ketika dipimpin oleh putera beliau yang bernama Kyai Archam Anom Besari. Santri-santrinya berdatangan dari berbagai daerah di Jawa, konon banyak juga santri yang datang dari daerah Pasundan Jawa Barat. Setelah Kyai Archam wafat, pondok dilanjutkan oleh putera beliau bernama Santoso Anom Besari. Kyai Santoso adalah generasi ketiga dari pendiri Gontor Lama. Pada kepemimpinan generasi ketiga ini Gontor Lama mulai surut; kegiatan pendidikan dan pengajaran di pesantren mulai memudar. Di antara sebab kemundurannya adalah karena kurangnya perhatian terhadap kaderisasi.

Jumlah santri hanya tinggal sedikit dan mereka belajar di sebuah masjid kecil yang tidak lagi ramai seperti waktu-waktu sebelumnya. Walaupun Pondok Gontor sudah tidak lagi maju sebagaimana pada zaman ayah dan neneknya, Kyai Santoso tetap bertekad menegakkan agama di desa Gontor. Ia tetap menjadi figur dan tokoh rujukan dalam berbagai persoalan keagamaan dan kemasyarakatan di desa Gontor dan sekitarnya. Dalam usia yang belum begitu lanjut, Kyai Santoso dipanggil Allah SWT. Dengan wafatnya Kyai Santoso ini, masa kejayaan Pondok Gontor Lama benar-benar sirna. Saudara-saudara Kyai Santoso tidak ada lagi yang sanggup menggantikannya untuk mempertahankan keberadaan Pondok. Yang tinggal hanyalah janda Kyai Santoso beserta tujuh putera dan puterinya dengan peninggalan sebuah rumah sederhana dan Masjid tua warisan nenek moyangnya.

Tetapi rupanya Nyai Santoso tidak hendak melihat Pondok Gontor pupus dan lenyap ditelan sejarah. Ia bekerja keras mendidik putera-puterinya agar dapat meneruskan perjuangan nenek moyangnya, yaitu menghidupkan kembali Gontor yang telah mati. Ibu Nyai Santoso itupun kemudian memasukkan tiga puteranya ke beberapa pesantren dan lembaga pendidikan lain untuk memperdalam agama. Mereka adalah Ahmad Sahal (anak kelima), Zainuddin Fannani (anak keenam), dan Imam Zarkasyi (anak bungsu). Sayangnya, Ibu yang berhati mulia ini tidak pernah menyaksikan kebangkitan kembali Gontor di tangan ketiga puteranya itu. Beliau wafat saat ketiga puteranya masih dalam masa belajar.

Sepeninggal Kyai Santoso Anom Besari dan seiring dengan runtuhnya kejayaan Pondok Gontor Lama, masyarakat desa Gontor dan sekitarnya yang sebelumnya taat beragama tampak mulai kehilangan pegangan. Mereka berubah menjadi masyarakat yang meninggalkan agama dan bahkan anti agama. Kehidupan mo-limo: maling (mencuri), madon (main perempuan), madat (menghisap seret), mabuk, dan main (berjudi) telah menjadi kebiasaan sehari-hari. Ini ditambah lagi dengan mewabahnya tradisi gemblakan di kalangan para warok.

Ketiga putera Ibu Nyai Santoso yang dikirimkan ke beberapa lembaga pendidikan terus memperdalam ilmu. Ibu Nyai Santoso tidak pernah berhenti berdoa kepada Allah SWT agar ketiga puteranya itu kelak dapat menghidupkan kembali Pondok Gontor Lama yang telah runtuh itu. Berkat pendidikan, pengarahan, dan do’a yang tulus dan ikhlas dari sang Ibu serta kesungguhan ketiga puteranya itu, akhirnya Allah SWT membuka hati ketiga putera itu untuk menghidupkan kembali pondok pesantren yang telah mati itu.

Pada tanggal 20 September 1926 bertepatan dengan 12 Rabi’ul Awwal 1345, di dalam peringatan Maulid Nabi, di hadapan masyarakat yang hadir pada kesempatan itu, dideklarasikan pembukaan kembali Pondok Gontor.

FIGUR


K.H. Ahmad Sahal, lahir  di desa Gontor Ponorogo  pada tanggal 22 mei  1901. Putera  kelima dari  Kyai  Santoso Anom Besari . Setamat  Sekolah   Rendah  (Vervolk School) atau Sekolah  Ongko Loro, beliau  mondok di berbagai  pondok pesantren diantarnya adalah Pondok Kauman Ponorogo; Pondok Joresan Ponorogo; pondok Josari Ponorogo; Pondok Durisawo Ponorogo; Siwalan Panji Sidoarjo; Pondok Termas Pacitan. Setelah  menjelajah  berbagai  kitab di berbagai Pondok pesantren, beliau  masuk  ke sekolah Belanda Algemeene Nederlandsch Verbon  (Sekolah pegawai di Zaman penjajahan Belanda), tahun 1919-1921. Pada tahun 1926 menjadi utusan ummat Islam daerah Madiun ke Kongres Ummat Islam Indonesia di Surabaya. Dan pada tahun yang sama membuka kembali Pondok Gontor dengan program pendidikan yang dinamakan “Tarbiyatu-l-Athfal“. Pada tahun 1977 tanggal 9 April beliau wafat.

K.H. Zainuddin Fanani, lahir di Gontor Ponorogo pada tanggal 23 Desember 1908. Putera keenam Kyai Santoso Anom Besari. Beliau masuk Sekolah Dasar Ongko Loro Jetis Ponorogo, lalu mondok  di Pondok Josari Ponorogo, Termas Pacitan, Siwalan Panji Sidoarjo. Sekolah juga di SD Hollandshe Inlander School (HIS), dan Kweekschool (Sekolah Guru) di Padang, lalu ke Leider School (Sekolah Pemimpin) di Palembang. Selain itu  beliau pernah  belajar pada Pendidikan Jurnalistik dan Tabligh School (Madrasah Muballighin III) di Yogyakarta, dan selesai pada tahun 1930. Sejak tanggal 8 April 1953 diangkat oleh presiden menjadi anggota Panitia Negara Perbaikan Makanan. Pada pertengahan bulan Januari 1959, menjabat Kepala Kabinet Menteri Sosial. Setahun kemudian yaitu pada tanggal 12 Agustus menjadi Kepala Jawatan Pekerjaan Sosial, juga menjadi anggota BPP-MPRS sampai tahun 1967. Pada tanggal 21 Juli 1967 beliau meninggal dunia di kediamannya di Jakarta. Beberapa karya tulis beliau di antaranya; Senjata Penganjur dan Pemimpin Islam, Pedoman Pendidikan Modern, Kursus Agama Islam, Penangkis Krisis, Reidenar dan Jurnalistik, serta masih banyak yang lainya.

K.H. Imam Zarkasyi, lahir di desa Gontor pada tanggal 21 Maret 1910. Putera ketujuh Kyai Santoso Anom Besari. Beliau belajar di Sekolah Dasar Ongko Loro di Jetis Ponorogo, mondok di Pesantren Josari Ponorogo, Pesantren Joresan Ponorogo, Pesantren Jamsaren Solo, Sekolah Mamba'ul 'Ulum, Sekolah  Arabiyah Adabiyah, lalu meneruskan ke Kweekschool di Padang Panjang. Pada tahun 1937 beliau kembali ke Gontor dan bersama kakaknya mendirikan KMI di Pondok Modern Darussalam Gontor, beliau menjadi direkturnya. Pada tanggal 30 April 1985 pukul 21.00 WIB beliau meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Madiun. Beberapa karya tulis beliau di antaranya; Senjata Penganjur, Pedoman Pendidikan Modern, Kursus Agama Islam (ketiganya ditulis bersama KH Zainuddin Fanani), Ushuluddin (Pelajaran 'Aqaid/Keimanan), Pelajaran Fiqh I dan II, Pelajaran Tajwid, Bimbingan Keimanan, Qowa'idul Imla', Pelajaran Huruf Al Qur'an I dan II, Pelajaran Bahasa Arab I dan II (beserta Kamusnya), At-Tamrinat jilid I, II, III (beserta kamusnya), I'rabu Amtsilati-Al Jumal,  jilid I &  II.

NGAJI

Kulliyyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyyah Gontor Putra


KMI berdiri pada tahun 1936. Setelah pondok modern  berusia sepuluh tahun. Pada era ini telah berdiri Madrasah “Tarbiyatul Athfal” yang telah dijalankan sejak Pondok Modern Gontor didirikan pada 1926, dan madrasah Sullamul Muta’allimin yang didirikan pada 1932. Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyyah(KMI) adalah Sekolah Pendidikan Guru Islam, hampir sama dengan Sekolah Noormal Islam, di Padang Panjang; di mana KH Imam Zarkasyi pernah belajar dan menjabat Direktur pada Sekolah semodel itu. Model ini kemudian dipadukan ke dalam sistem pendidikan pondok pesantren. Pelajaran agama, seperti yang diajarkan di beberapa pesantren pada umumnya, diberikan di kelas-kelas. Tetapi pada saat yang sama para santri tinggal di dalam asrama dengan mempertahankan suasana dan jiwa kehidupan pesantren. Proses pendidikan berlangsung selama 24 jam, sehingga “segala yang dilihat, didengar,  dan diperhatikan santri di Pondok ini adalah untuk pendidikan.” Pelajaran agama dan umum diberikan secara seimbang dalam jangka 6 tahun. Pendidikan ketrampilan, kesenian, olahraga, organisasi, dan lain-lain merupakan bagian dari kegiatan kehidupan santri di Pondok.

Kulliyatu-l-Mu’allimat Al-Islamiyah Gontor Putri
Sebagaimana wasiat para pendiri Pondok Modern Gontor tentang pentingnya didirikan Pondok Modern Gontor Putri, dan sesuai dengan keputusan Badan Wakaf pada Sidang Badang Wakaf ke-27 yang diselenggarakan pada 7-8 Rabiul Awwal 1411, maka didirikanlah Pondok Modern Gontor Putri di Mantingan Ngawi, yang berjarak 100 km dari Pondok Modern Gontor. Kulliyatu-l-Mu'allimat Al-Islamiyah dibentuk di Pondok Modern Gontor Putri, dan bertanggung jawab atas jalannya proses belajar-mengajar di sana. Setara dengan KMI yang berjalan di Pondok Modern Darussalam Gontor, Kulliyatu-l-Mu'allimat Al-Islamiyah menerapkan kurikulum dan program pembelajaran yang serupa dengan KMI, dengan penyesuaian pada muatan lokal dan penekanan pada pembekalan santriwati untuk menjadi wanita salihah. Adapun Gontor Putri menempati beberapa lokasi di Indonesia, yakni Ngawi, Konawe, dan Pare Kediri.

Institut Studi Islam Darussalam
Institut Studi Islam Darussalam (ISID) didirikan pada tanggal 1 Rajab 1383, bertepatan dengan 18 November 1963. ISID terdiri dari 3 fakultas: Fakultas Tarbiyah, yang memiliki dua jurusan: Jurusan Pendidikan Agama Islam dan Jurusan Pendidikan Bahasa Arab. Fakultas Usuluddin, dengan dua jurusan: Jurusan Akidah dan Pemikiran Islam, serta Jurusan Perbandingan Agama. Fakultas Syariah, memiliki dua jurusan: Jurusan Perbandingan Madzhab dan Hukum, serta Jurusan Manajemen Lembaga Keuangan Islam. Sarjana strata satu Institut Studi Islam Darussalam, dapat meneruskan studi pada jenjang pendidikan selanjutnya di berbagai universitas, antara lain; Universitas Gadjah Mada di Jogjakarta (1973), Universitas Negeri Malang (1975), Perguruan Darul Ulum di Universitas Kairo Mesir (1981), Universitas Punjab di Lahore Pakistan (1983),  International Islamic University Islamabad di Pakistan (1989), International Islamic University, Malaysia, Universitas Kebangsaan Malaya (1998), Universitas Manila di Filipina (1999), International Institute of Islamic Thought and Civilization (1999), Universitas Putra Malaya Malaysia (2001), Universiti Malaya Malaysia (2005).

Persamaan Ijazah
Ijazah Kulliyatu-l-Muallimin Al Islamiyah (KMI) telah mendapat persamaan dari Departemen Pendidikan Indonesia melalui Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 105/O/2000. Dan juga telah mendapat pengakuan melalui Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam No. E.IV/PP.03.2/KEP/64/98. Namun, jauh hari sebelum memperoleh pengakuan dari Departemen Pendidikan dan Departemen Agama, Ijazah KMI telah diakui oleh berbagai lembaga pendidikan internasional, diantaranya: Unversitas Al-Azhar dan Perguruan Darul Ulum di Universitas Kairo Mesir, Universitas Islam Madinah dan Universitas Ummul Quro Mekah, Saudi Arabia, Universitas Islam Islamabad dan Universitas Punjab Lahore, Pakistan, Universitas Aligarh, Pakistan, International Islamic University Kuala Lumpur, Universitas Kebangsaan Malaysia, dan Universiti Malaya Malaysia.

Kegiatan Ekstrakulikuler
1. Jam’iyyatu-l-Qurra‘ dan Tahfidz Al-Quran
2. Diskusi dan Kajian ilmiah
3. Pelatihan Organisasi
4. Gerakan Pramuka, termasuk di dalamnya Marching Band
5. Program peningkatan Bahasa, diantaranya;  Penyampaian kosa kata Bahasa Arab dan Inggris setiap pagi. Percakapan berbahasa Arab maupun Inggris, dua kali sepekan, pada hari Selasa dan Jumat. Perlombaan pidato, drama dan cerdas cermat dalam bahasa Arab dan Inggris. Public Speaking dengan menggunakan tiga bahasa, Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, dan Bahasa Inggris.
6. Perkemahan, diadakan setiap minggu secara bergiliran, berlokasi di desa-desa binaan Pondok Modern Gontor.
7. Kursus-Kursus Ketrampilan dan kesenian, di antaranya: Kursus Kaligrafi, Kursus Melukis, Kursus Mengetik, Kursus Komputer, Kursus Elektronika, Kursus Membuat Sirup and Roti
8. Olahraga, meliputi : Lari pagi, Sepak bola, Bola basket, Bola takraw, Tenis meja, Bulu tangkis, Bola voli, Bela diri, Senam, Futsal
9. Penerbitan buletin dan majalah dinding
10. Pementasan Seni, ditampilkan oleh kelas lima dan kelas enam dalam rangka pekan perkenalan.

AKSES


Pondok Modern Darussalam Gontor Pusat: Gontor – Mlarak – Ponorogo – Jawa Timur – Indonesia 63472, Telp dan Fax Sekretaris Pimpinan (0352) 311 766, Pengasuhan Santri (0352) 311 711/311 911/313 102, Email sekpim@gontor.ac.id

Pondok Modern Darussalam Gontor 2: Madusari – Siman – Ponorogo – Jawa Timur – Indonesia 63471, Telp (0352) 489 140/483 729/482 670/488 570

Pondok Modern Gontor 3 ‘Darul Ma’rifat’: Sumbercangkring – Gurah – Kediri – Jawa Timur – Indonesia 64181, Telp (0354) 548 261/545 115/545 317, Email sekpeng_gontortiga@yahoo.com

Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 1: Sambirejo – Mantingan – Ngawi – Jawa Timur – Indonesia 63257, Telp (0351) 673 387/673 261/672 000/672 640/671 179, Email gontorputri1@yahoo.com

Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 2: Sambirejo – Mantingan – Ngawi – Jawa Timur – Indonesia 63257, Telp (0351) 673 263/673 256/672 646

Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 3: Karangbanyu – Widodaren – Ngawi – Jawa Timur – Indonesia 63257, Telp (0351) 673 520/673 732/673 519/673 523, Email gontorputri3@yahoo.co.id

Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 4: Lamomea – Konda – Konawe Selatan – Sulawesi Tenggara – Indonesia 93874, Telp (0401) 326 859/300 7647/300 8765

Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 5: Bobosan – Kandangan – Kemiri – Kediri – Jawa Timur – Indonesia 64294, Telp (0354) 326 859/706 7200, Fax (0354) 326 777

Pondok Modern Gontor 5 ‘Darul Muttaqien’: Kaligung – Rogojampi – Banyuwangi – Jawa Timur – Indonesia 68462, Telp (0333) 632 546

Pondok Modern Gontor 6 ‘Darul Qiyam’: Gadingsari – Mangunsari – Sawangan – Magelang – Jawa Tengah – Indonesia 56481, Telp (082) 293 1291/(0293) 580 8641

Pondok Modern Gontor 7 ‘Riyadhatul Mujahidin’: Pudahoa – Mowila – Konawe Selatan – Sulawesi Tenggara – Indonesia 93873, Telp (0401) 329 574/(0411)402 330

Pondok Modern Darussalam Gontor 8: Labuhan Ratu 6 – Labuhan Ratu – Lampung Timur – Lampung – Indonesia 34196

Pondok Modern Darussalam Gontor 9: Kubu Panglima – Taji Malela – Kalianda – Lampung Selatan – Lampung – Indonesia 35551, Telp (0727) 700 0230

Pondok Modern Gontor 10 ‘Darul Amin’: Meunasah Baro – Seulimeum – Aceh Besar – Nangroe Aceh Darussalam – Indonesia 23951, Telp (0742) 285 29

Pondok Modern Gontor 11: Bubuh Limau, Mandi Mandi an, Ompang Talago Lawe, Sulit Air, Solok, Sumatera Barat.

Pondok Modern Gontor 12: Parit Culum 1, Muara Sabak Barat, Tanjung Jabung Timur, Jambi.

Pondok Modern Gontor 13 dan Gontor Putri 6: Desa Tokorondo Kec. Poso Pesisir, Sulawesi Tengah.

Website: www.gontor.ac.id

Demikian sekelumit informasi tentang Pondok Modern Gontor. Silakan langsung datang ke lokasi untuk merasakan suasananya atau kunjungi situs resminya untuk menggali informasi lebih lanjut. [Madaaris]

0 comments :

© 2011-2014 Informasi Pendidikan Kita. Designed by Bloggertheme9. Powered by Blogger.