Monday, 21 December 2015

Pesantren Al-Khairaat Palu

Zia Ul Haq     00:37    

Pesantren Al-Khairaat Palu merupakan pesantren terkenal dan berpengaruh di wilayah Indonesia Timur. Pesantren ini memiliki ratusan cabang di berbagai provinsi, kota dan kabupaten di Indonesia Timur. Saat ini bahkan sudah memiliki cabang di 13 provinsi seluruh Indonesia, baik berupa yayasan pesantren, madrasah, panti asuhan, maupun universitas.
Santri Al-Khairaat
KILAS SEJARAH
Awal kedatangan Guru Tua (Habib Idrus bin Salim Aljufrie) di Wani, Kota Palu, Sulawesi Tengah dalam rangka memenuhi panggilan dari kakak beliau, Habib Alwi bin Salim Aljufrie, untuk mengajar di Wani pada tahun 1929 M. Kehadiran Guru Tua di Wani merupakan wujud dari keinginan masyarakat setempat yang ingin mengenal Islam lebih baik. Mereka pun bersama-sama mendirikan sebuah tempat yang digunakan untuk proses belajar-mengajar.

Perjalanan Guru Tua sebagai seorang juru dakwah dan pendidik semakin memantapkan niat beliau untuk menetap di Kota Palu. Dalam pengembangan pendidikan dan dakwah Islam, Guru Tua pun memutuskan untuk menikahi salah seorang bangsawan Puteri Kaili yang juga merupakan sosok perempuan yang sangat berperan dalam pengembangan Yayasan Alkhairaat Pusat di kemudian hari. Dengan ketetapan hati dan petunjuk dari Allah pada tahun 1931 M, Guru Tua pun menikahi Ince Aminah. Dari perkawinan ini beliau dikaruniai dua orang puteri, Syarifah Sidah Aljufrie dan Syarifah Sa’diyah Aljufrie. Setelah menikah dengan Ince Aminah, Guru Tua tidak lagi tinggal di Kampung Ujuna, namun beliau pindah ke Kampung Baru dirumah Ince Aminah.

Untuk mengurangi padatnya jadwal Guru Tua dalam mengajar, maka Ince Aminah mengusulkan kepada Guru Tua untuk mengajak muridnya, laki-laki dan perempuan, tinggal bersama mereka. Lokasi lantai dasar dimanfaatkan oleh Ince Aminah sebagai tempat tinggal bagi para murid laki-laki juga tempat mengajar Guru Tua, sedangkan bagi para perempuan, mereka tinggal dilantai dua sambil dapat terus belajar kepada Guru Tua dan Ince Aminah, termasuk kedua puteri mereka.

Keberadaan para murid ini sangat membantu kinerja Guru Tua dalam bidang pendidikan, beberapa dari mereka dikirim oleh Guru Tua ke daerah pelosok untuk mengajar. Seiring bertambahnya murid serta para lulusan yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang SLTA, Ince Ami pun mewakafkan tanah seluas 5 Hektar untuk pengembangan pendidikan di Alkhairaat yang kemudian di bangun sekolah Mualimin Alkhairaat.

Awal keberadaan Al-Khairaat sempat dilarang pemerintah Belanda karena ajaran Guru Tua, khususnya yang bersumber dari kitab Izhatun Nasyi`in, karya Musthafa Al-Ghalayani. Kitab itu dianggap berbahaya karena dapat membangkitkan semangat juang rakyat untuk melakukan perlawanan. Perlakuan seperti itu masih tetap diberlakukan oleh Pemerintah Jepang juga ketika itu.

Meskipun dilarang, Guru Tua tak pernah patah semangat. Ia terus bergerilya sambil mengajar. Dan selama berpindah-pindah tempat selama 15 tahun, Guru Tua berhasil mendirikan 400 madrasah yang meliputi ibtidaiyah, tsanawiyah, aliyah dan mualimmin (setingkat diploma).

Setelah Proklamasi kemerdekaan, Al-Khairaat terus berkembang. Pada 21 Agustus 1956, Al-Khairaat yang juga menjadi lembaga sosial kemasyarakatan menyelenggarakan Muktamar Besar pertama. Muktamar berhasil menetapkan 10 pasal anggaran dasar pondok. Setelah muktamar, Guru Tua mulai mempercayakan pengelolaan pendidikan kepada sejumlah santri yang lulus terbaik sampai 1964. Pada 1964 digelar Muktamar II.

Pada masa G 30 S/PKI, beberapa kegiatan Al-Khairaat terpaksa tutup. Pada 1969, cucu Guru Tua, Sayyid Seggaf Aldjufrie, kembali membuka madrasah dan kampus-kampus milik Al-Khairaat, sekaligus memegang kendali Al-Khairaat. Sebab, 22 Desember 1969, Guru Tua wafat. Dalam Genggaman Seggaf, Al-Khairaat terus mekar hingga memiliki ratusan cabang di berbagai daerah.

Di dalam Komplek Alkhairaat Pusat kini terdapat berbagai jenjang pendidikan dari TPA, Play Group, TK, SD, Ibtidaiyah, SMP, Tsanawiyah, Aliyah, SMA, SMK, Panti Asuhan dan Pondok Pesantren yang berada dibawah naungan Pengurus Besar Alkhairaat atau lebih dikenal dengan Yayasan Alkhairaat Pusat Palu.

Dalam perkembangannya, ketika dilaksanakan Muktamar I pada tahun 1956, jumlah madrasah Alkhairaat tercatat sebanyak 25 buah. Keputusan penting yang dihasilkan oleh Muktamar adalah dibukanya Madrasah Lanjutan Pertama yang dipimpin oleh Ustad Abbas Palimuri dengan mengakomodasi pelajaran umum dan agama masing-masing 50 persen. Pada tahun 1963 dilaksanakan Muktamar II Alkhairaat di Ampana. Dilaporkan bahwa jumlah madrasah naik menjadi 150 cabang. Pada Muktamar Alkhairaat ke 3, jumlah madrasah meningkat lagi menjadi 450 cabang, Muktamar ke 4 tahun 1980, 556 cabang. Muktamar ke 5 tahun 1986 sebanyak 732 cabang, dan hingga akhir tahun 2004, Alkhairaat telah memiliki 1.561 Madrasah/Sekolah dan 34 Pondok Pesantren yang tersebar di Kawasan Timur Indonesia.

Di bidang pendidikan tinggi, Alkhairaat membuka Universitas Alkhairaat (UNISA) dengan 5 fakultas definitif dan 2 fakultas persiapan. Kelima fakultas tersebut yaitu Fakultas Agama, Pertanian, Perikanan, Ekonomi dan Sastra ditambah Fakultas Kejuruan dan Ilmu Pendidikan serta kedokteran. Sampai tahun 2004, UNISA tercatat telah mewisuda 1.841 sarjana Strata 1 dan D2.

Selain itu, untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada Keluarga Besar Alkhairaat dan masyarakat umum, dibukalah Rumah Sakit Islam S.I.S Aljufri yang diresmikan bersamaan dengan Haul ke 35 Habib Idrus Bin Salim Aljufri pada tahun 2004.

FIGUR


Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufrie, lahir di Taris, Hadramaut, Yaman pada 14 Sya’ban 1309 H / 15 Maret 1881 M. Beliau merupakan pendiri Yayasan Al-Khairaat. Mengaji di Rubath Tarim dan Mekah di masa muda. Diangkat sebagai mufti Taris pada usia 25 tahun, hijrah ke Indonesia pada 1925, tinggal di Pekalongan, Solo, Manado, kemudian menetap di Palu pada 1930 dan meresmikan Madrasah Al-Khairaat pada 30 Juni 1930. Beliau wafat pada Senin 12 Syawwal 1389 H / 22 Desember 1969 M.

Sayyid Seggaf Al-Jufrie
KH Muhammad Abu Bakar
Dr. Salim Seggaf Al-Jufrie

NGAJI

Terdapat berbagai lembaga pendidikan di Al-Khairaat Pusat (Palu, Donggala, Sulawesi Tengah). Mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Play Group, TK. Pendidikan Sekolah dan Madrasah meliputi; SD, Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) / SMP, SMA / Madrasah Aliyah (MA) / SMK Alkhairaat, serta Pondok Pesantren (Ponpes). Hingga Pendidikan Tinggi (Universitas Alkhairaat) dan Panti Sosial (Baitul Yatimaat)

Adapun cabang sekolah dan madrasah Alkhairaat terdapat di 13 Provinsi di Indonesia, antara lain: Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tenggara, dan DKI Jakarta.

Kurikulum ilmu Agama yang diajarkan di sini lebih mengacu pada diniyah (lembaga pendidikan) di Mesir, daripada merujuk kurikulum Departemen Agama (Depag). Misal, jika kurikulum Depag menyebut pelajaran Al-Quran, Al-Khairaat memasukkan istilah itu menjadi Pelajaran Al-Quran, Tajwid dan Tafsir. Sementara al-Hadits, dimasukkan ke pelajaran Mustalahul Hadis.

Sedangkan pelajaran umum meliputi Matematika, Bahasa Inggris, Fisika, Biologi dan beberapa pelajaran lain sesuai ketentuan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Al-Khairaat memang tak hanya mengajarkan ilmu-ilmu Agama dan pengetahuan umum. Kesenian dan olah raga pun mendapat perhatian setara di pesantren ini.

Pesantren yang memiliki 7.000 staf pengajar dan 1.400 unit pendidikan ini juga mengajarkan nasyid, syair, samrah, dan jepeng. Sementara di bidang olah raga, para santri tak hanya diajari karate dan pencak silat, tapi juga ilmu prana--olah nafas. Dengan dibekali beragam ilmu tersebut, tak mengherankan bila para santri memiliki kekuatan fisik, mental, dan spiritual serta olah rasa yang bagus.

Dan, berbekal ilmu-ilmu itu para santri senantiasa siap untuk ditugaskan melakukan siar Islam ke daerah-daerah terpencil di kawasan Indonesia Timur. Para santri tidak berani kembali sebelum tugasnya beres, atau sebelum ada perintah dari pusat.

AKSES

Alamat: Jl. SIS Aljufrie No. 44, Kota Palu, Donggala, Sulawesi Tengah

Kontak: Telepon (0451) 421658 | Ponsel: 08164305294

Email: humas@alkhairaat.sch.id

Website: www.alkhairaat.sch.id

Demikian sekelumit informasi tentang Pondok Pesantren Al-Khairaat, Palu. Silakan langsung datang ke lokasi untuk merasakan suasananya atau kunjungi situs resminya untuk menggali informasi lebih lanjut. [Madaaris]

0 comments :

© 2011-2014 Informasi Pendidikan Kita. Designed by Bloggertheme9. Powered by Blogger.