Sunday, 8 November 2015

Seri Permainan Tradisional (1): Ular Naga & Glatik

Zia Ul Haq     02:18    

Masih ingat Ular Naga? Gobak Sodor? Engklek? Masih? Bagus! Itu semua adalah permainan-permainan khas yang sering anak-anak mainkan di sore hari selepas sekolah sambil menanti waktu petang, atau di hari libur dengan begitu riang. Permainan-permainan ini tidak hanya bermanfaat sebagai sarana bersenang-senang, tapi juga meliputi pendidikan kerja sama, kreativitas, kelincahan, ketelitian, hingga olah raga.

Namun sayangnya, anak-anak zaman sekarang sepertinya banyak yang tidak kenal dengan permainan-permainan ini. Tidak sedikit anak-anak yang lebih akrab dengan mainan elektronik berupa gadget canggih, atau lebih suka nongkrong di depan televisi, atau bahkan sudah fasih main pacaran dan kencan di mall. Alamak! Salah siapa? Tentu bukan salah mereka, justru ini adalah tanggung jawab generasi kakak-kakak mereka untuk memperkenalkan dan melestarikan permainan-permainan yang lebih manusiawi.

Untuk mengingat kembali teknis permainan-permainan itu, ini dia ulasan berseri tentang tata laksana permainan tradisional populer yang perlu ditularkan ke adik-adik generasi saat ini.

1. Ular Naga

Misal ada 10 anak, maka kesepuluh anak ini melakukan ‘hompimpah’ untuk menyeleksi siapa dua orang yang akan jadi gerbang. Dua orang iu kemudian membuat semacam gerbang dengan cara memadukan dua telapak tangan satu sama lain. Oiya, dua orang ini punya kode masing-masing, misalnya; Apel untuk Si A dan Jeruk untuk Si B.
Permainan Tradisional Anak Indonesia: Ular Naga. (foto: wikipedia)
Delapan orang selainnya membuat barisan, kemudian mulai masuk ke ‘gerbang’ seperti ular, terus berputar masuk ke ‘gerbang’ yang bernyanyi; “Ular naga panjangnya bukan kepalang. Berjalan-jalan kesana kian kemari. Umpan yang lezat itulah yang dicari. Ini dianya yang terbelakang!”

Ketika sampai di kata ‘terbelakang’, kedua tangan ‘gerbang’ yang tadinya terangkat seketika diturunkan sehingga meringkus salah satu anggota ular. Lalu si tawanan ini diajak ke tempat lain yang tak bisa didengar kawanan ular, ia disuruh memilih; Apel atau Jeruk. Jika memilih Apel, berarti setelah ini dia akan berdiri di belakang Si A. kalau memilih Jeruk, berarti dia gabung kelompok Si B.

Demikian terus dilakukan sampai seluruh anggota ular habis. Jika sudah habis, maka terbentuklah dua kelompok ular baru, yakni kelompok Apel dan kelompok Jeruk yang akan saling memburu. Caranya, kepala ular kelompok Apel (Si A) akan mengincar ekor ular kelompok Jeruk (Si B). Begitupun sebaliknya. Bagi ekor yang tertangkap, maka dia akan menjadi kelompok musuhnya dan ikut memburu ekor ular mantan kelompoknya. Kelompok yang paling banyak memangsalah yang menjadi pemenang.

2. Glatik

Permainan ini membutuhkan alat, yakni  batang kayu panjang (30 cm), batang kayu pendek (5 cm), dan sebuah lubang kecil di tanah. Pertama, gali sedikit lubang berbentuk oval dengan ujungnya mengarah ke depan, dalamnya cukup 2-3 cm saja. Setidaknya harus ada dua orang untuk bermain Glatik ini. Jika jumlah orang berkelipatan dua, bisa dibuat berkelompok.

Kemudian semua pemain (atau diwakili ketua kelompok) melakukan hompimpah untuk menentukan urutan pemain. Misal ada tiga kelompok dengan urutan main; A, B, lalu C. Maka kelompok A berdiri di sekitar lubang kecil, sedangkan kelompok B dan C menjauh sekitar 5-7 meter di depan kelompok A.

Di sinilah permainan dimulai. Salah seorang anggota A mulai memainkan batang kayu panjang dan pendek. Sesi pertama, batang kayu pendek digelelengkan melintang lubang, kemudian dicungkil dengan batang kayu panjang sehingga kayu kecil terlempar ke depan (ke arah kelompok A dan B).

Dua kelompok lawan pun berusaha untuk menangkap kayu kecil itu. Jika tertangkap, maka si pelempar gugur dan harus dilanjutkan pemain lainnya. Jika gagal tertangkap, maka kelompok A akan menghitung poin perolehannya dengan mengukur jarak antara tanah tempat jatuhnya kayu dan lubang kecil dengan menggunakan kayu panjang.

Sesi kedua, si pemain melanjutkan aksinya. Kali ini, kayu pendek diletakkan tegak dengan lubang, sehingga satu bagian ujungnya masuk ke dalam lubang, sedangkan ujung lainnya nampak keluar dan terarah ke depan (kelompok lawan). Lalu ujung kayu pendek dipukul dengan kayu panjang dengan keras, sehingga kayu pendek terungkit dan terlempar ke atas. Saat kayu pendek ini naik ke atas, si pemain memukul lagi kayu pendek itu ke arah depan. Bletak!

Lagi-lagi kelompok lawan harus menangkap kayu pendek. Kalau gagal, maka kelompok A berhak menghitung poin, namun kali ini menggunakan kayu pendek sebagai alat hitungnya. Begitu terus permainannya secara bergiliran. Pemenangnya ditentukan dengan perolehan poin.
Permainan Tradisional Anak Indonesia: Glatik. (foto: wikipedia)
Oiya, permainan ini cukup berbahaya jika kayu mengenai kepala atau bagian tubuh lainnya. Maka alangkah baiknya jika menggunakan kayu ‘lunak’ dan beul-betul jaga jarak sehingga agak jauh dari lokasi pemukul. [Madaaris]

1 comment :

© 2011-2014 Informasi Pendidikan Kita. Designed by Bloggertheme9. Powered by Blogger.