Saturday, 7 November 2015

Ki Hajar Dewantara, Pondok Pesantren dan Pendidikan Nasional

Zia Ul Haq     02:03    

Oleh: M.S. Abbas

Siapa yang tak kenal nama Raden Mas Soewardi Surjaningrat kemudian berubah nama menjadi Ki Hajar Dewantara? Nama besar itu melekat benar di hati sanubari bangsa kita karena jasa-jasanya mengembangkan pola pendidikan nasional yang bertitik tolak dari konsep kebudayaan nasional.
Surau tempo dulu. (foto: KITLV)
Delapan puluh tiga tahun silam beliau dilahirkan di Yogyakarta. Dan wafat pada usia 60 tahun atau tepatnya tanggal 26 April 1959. Tujuh bulan setelah wafatnya beliau dinyatakan sebagai pahlawan nasional. Sebulan kemudian yaitu tanggal 16 Desember 1959, hari kelahirannya (2 Mei) ditetapkan sebagai hari Pendidikan Nasional dengan Keputusan Presiden Nomor 316.

Tentu saja kita tidak ragu untuk mengatakan bahwa beliau adalah pahlawan, terutama di bidang pendidikan, karena beliaulah yang mengembangkan lembaga pendidikan berangkat dari kebudayaan nasional meskipun bahwa lembaga tersebut tak dapat melepaskan ciri-ciri kejawaannya. Tentu kita tidak akan mencibirkan bibir bila dikatakan bahwa beliau telah memberikan sumbangan yang tidak ternilai lagi bagi kebangunan semangat kemerdekaan putra-putri bangsa ini. Melalui sebuah perguruan swasta kecil yang bernama National Onderwijs Institut Taman Siswa yang didirikan di Yogyakarta terhitung sejak 3 Juli 1922,beliau telah melahirkan tokoh-tokoh pendidikan yang denyut kenasionalannya masih terasa hingga sekarang

Taman Siswa yang dikembangkan oleh Ki Hajar Dewantara bertitik tolak dari pokok-pokok pikiran yang sedikit banyak dipengaruhi ide-ide Montessori, Frobel, Tagore ketika Dewantara dibuang ke negeri Belanda (Tenji Tsuchiya:Gerakan Taman Siswa Delapan Tahun Pertama dan Latar Belakang Jawa Taman Siswa), dalam Indonesia Masalah dan Peristiwa Bunga Rampai, Gramedia, 1976, Jakarta hal 36-37). Terlepas dari dipengaruhi atau tidak, yang menarik adalah pokok-pokok pikiran Ki Hajar Dewantara sebagaimana yang disampaikan pada rapat peresmian Taman Siswa yaitu ketakpercayaan beliau pada pola pendidikan barat yang dikembangkan oleh pemerintah kolonial dan keyakinannya terhadap pola pendidikan nasional.

Dikatakan bahwa pendidikan barat di negeri kita tidaklah bisa membantu memperoleh kebijaksanaan untuk mengembangkan jiwa raga anak-anak, karena pada waktu itu pendidikan yang diterima anak-anak bumi putra hanya untuk menjadikan buruh-buruh Belanda saja. Di samping itu, pendidikan barat sedikit sekali menyumbang kepada usaha memajukan solidaritas bangsa. Sementara pendidikan nasional harus dikembangkan, karena mendidik pada hakikatnya juga dalam rangka mengembangkan kebudayan nasional yang bersumber dari adat istiadat. Melalui pendidikan nasional, bangsa kita dapat belajar semangat kemerdekaan dan menangkap rasa solidaritas nasional. Sistem pendidikan nasional yang dimaksud mesti juga mempertimbangkan system asrama dan pondok pesantren.

Pada langkah pengembangan Taman Siswa, kita memang melihat titik-titik kesamaan antara Perguruan Taman Siswa dengan sistem pondok pesantren. Untuk menyebut beberapa di antaranya adalah sistem among, sistem asrama dan sikap eksklusif terhadap pemerintah penjajah.

Melalui sistem among atau yang biasa kita kenal sekarang adalah tut wuri handayani,
kepada para siswa ditanamkan sikap percaya diri baik perasaan, pemikiran dan tindakan. Pola among di Pondok Pesantren dapat kita amati melalui metode pangajaran yang disebut sorogan, yaitu santri mengajukan sendiri program belajar yang akan diambilnya kepada kyai dan kyai tinggal menuruti dan memberikan tuntunan apa yang dikehendaki oleh santri tersebut. Semangat percaya diri sendiri pun dapat ditafsirkan melalui sistem asramanya, suatu ciri lain Pondok Pesantren di mana guru (kyai) dan murid (santri) tinggal bersama dalam suatu kompleks yang sekaligus didalamnya dilengkapi dengan berbagai sarana belajar lainnya. Para santri hidup rukun di dalam asramanya, memelihara bersama-sama alat perlengkapan pondoknya sehingga terjalin rasa persaudaraan yang erat dan semangat gotong royong yang kuat serta diliputi oleh suasana keikhlasan. Kebiasaan mengurus diri sendiri dan menentukan pilihannya sendiri selama mereka belajar, menumbuhkan kepercayaan pada sendiri dan membentuk pribadi yang bebas.

Sikap ekslusif Pondok Pesantren terhadap pemerintah kolonial pun cukup jelas dicatat oleh sejarah. Ada kalanya sikap ini sampai melebihi batas misalnya diharamkan para santri atau pengikut kyai untuk berpantolan dan berdasi. Terhadap bantuan dana dari pemerintah kolonial tidak mau menerimanya, satu sikap yang ditemui juga pada Taman Siswa yang tak mau menerima subsidi. Ini salah satu sikap yang dapat mengangkat harkat martabat bangsa kita di mata penjajah.

Kesamaan lainnya adalah sikap hidup penuh kesederhanaan dan hemat serta jiwa ikhlas bagi para guru. Beberapa di antara prinsip-prinsip pokok yang dihasilkan Kongres Taman Siswa tanggal 20 sampai 22 Oktober 1923 adalah mengenai dua sikap di atas yaitu kesederhanaan dan keikhlasan. Hal ini juga kita temui pada sistem Pondok Pesantren. Dari buku “Guruku Orang-orang dari Pesantren" yang ditulis manis oleh K.H Saifuddin Zuhri dapat ditemui contoh-contoh sikap kesederhanaan kyai dan santrinya. Jiwa ikhlas pun tercermin misalnya pada tidaknya ketentuan berapa rupiah kyai menerima bayaran. Kyai hidup dari sawah ladangnya sendiri bahkan pesantrennya pun dihidupi dari kekayaan kyai. Kalaupun kyai menerima sesuatu dari wali santri, itu hanyalah sekadar shadaqah, satu lembaga keagamaan yang dipercayai oleh ummat Islam sebagai mempunyai nilai pahala tinggi.

Begitulah, kita banyak melihat kelebihan-kelebihan sistem pendidikan yang disebut Pondok Pesantren ini. Terlepas dari berbagai kelemahan yang hingga kini masih erat melekat pada lembaga pendidikan ini, penilaian cukup menarik diberikan oleh Menteri Nakertrans kop sembilan tahun lalu (1973) ketika memberikan sambutan pada acara pembukaan Musyawarah Koperasi Pondok Pesantren di Jombang. Dikatakannya bahwa tidak sedikit pengusaha kita di daerah-daerah terdiri dari alumni Pondok Pesantren. Kenyataan ini tidak terlepas dari latihan dan kebiasaan hidup mereka ketika masih di pesantren. Dengan keberanian hidup mencari jalan sendiri, mengelola kehidupan dirinya, para alumni Pondok Pesantren terhindar dari kebiasaan menunggu kesempatan kerja atau sebagai tuna karya.

Jauh sebelum pernyataan Pak Menteri pada tahun 1973 tersebut, Ki Hajar dewantara telah melihat Pondok Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang patut dipertimbangkan dalam rangka merumuskan pola pendidikan nasional yang akan disusun. Dan setelah kemerdekaan, oleh karena berbagai persoalan nasional yang mendesak, pendidikan nasional itu pun belum terumuskan. Yang ada hanya bayang-bayangnya. Pendidikan di Indonesia belum merupakan satu kesatuan sehingga belum pantas disebut sebagai wujud nyata pendidikan nasional. Selama ini kita hanya memperingati hari Pendidikan Nasional setiap tanggal 2 Mei, tapi kita belum melihat sosok sistem pendidikan yang benar-benar mencerminkan pola nasional. Kita baru melihat bayang-bayang kabur.

Menteri P dan K Daoed Joesoep hadir dengan salah satu pemikiran untuk secepatnya mewujudkan sistem yang benar-benar mencerminkan pola pendidikan nasional. Melalui Keputusan Menteri P dan K No. 02383/P/1978 tanggal 25 Agustus 1978 dibentuklah Komisi Pembaruan Pendidikan Nasional. Pada Maret 1980, konsep tersebut mengalami revisi tiga kali setelah mempertimbangkan banyak penadapat kalangan masyarakat. Namun demikian, sudah cukup lama tidak kita dengar kabar proses lanjutan Konsep Pembaruan Pendidikan.

Yang menarik dari konsep ini dalam hubungannya dengan tulisan ini adalah dimasukkan pondok pesantren sebagai bagian pendidikan nasioanl dalam kelompok pendidikan kemasyarakatan. Meskipun begitu, pembahasan tentang pondok pesantren dalam kaitannya dengan sebagai bagian pendidikan nasioanl kiranya terlalu sedikit karena hanya menyinggung permukaan saja. Dari konsep tersebut kita belum dapat tahu hakikat pondok pesantren itu bagaimana dan seterusnya. Tanpa sadar, kita terjebak pada pemikiran bahwa pendidikan itu hampir identik dengan sekolah.

Kita belum banyak tahu kapan konsep ini akan menjadi Undang-undang. Ini artinya masih ada kesempatan untuk proses pematangan melalui para anggota DPR yang terhormat. Melalui forum DPR lah kita berharap untuk lebih lengkap mengadakan pengamatan tentang nilai-nilai yang survival dari pondok pesantren dan mengambil hikmahnya bagi kepentingan pendidikan nasional.

Memang antara Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional, pondok pesantren sebagai warisan budaya nenek moyang kita dan pendidikan nasional yang kita cita-citakan., satu yang lainnya saling berkaitan. Kita mesti membuka diri untuk melihat pondok pesantren sebagai satu alternatif media pendidikan karena di dalamnya banyak kita jumpai generasi muda yang terlibat. Kalau di Jawa Timur saja tercatat 1938 pondok pesantren dengan jumlah santri sekitar 383.235, apakah kita masih berhak meragukan bahwa pondok pesantren punya potensi yang terpendam yang belum semua ahli pendidikan menjajaki dan mengembangkannya?

Dalam rangka Hari Pendidikan Nasional tahun ini, sepantasnya kalau kita merenungi sejenak masa depan lembaga pendidikan yang seakan banyak tertinggal di belakang ini.

*Sumber: Buku ‘Menguak Tabir Kusam; Kumpulan Esai Permasalahan Pendidikan’, M.S. Abbas, P.T Bina Ilmu, 1984. Disadur dari catatan Facebook Fa'anni Likhairika.

0 comments :

© 2011-2014 Informasi Pendidikan Kita. Designed by Bloggertheme9. Powered by Blogger.