Sunday, 25 October 2015

Pesantren Lirboyo Kediri

Zia Ul Haq     07:27    

Lirboyo, adalah nama sebuah desa yang ada di barat Kali Brantas, di lembah gunung Willis, Kediri. Nama desa ini digunakan oleh KH Abdul Karim menjadi nama pesantrennya.
Pondok Pesantren Lirboyo (Foto: Lirboyo.net)
 KILAS SEJARAH

1910 – KH Abdul Karim mulai menetap di Desa Lirboyo. Beliau babat alas dan membuka pengajian. Santri pertama beliau bernama Umar dari Madiun. Kemudian disusul tiga orang lain, yakni Yusuf, Shomad dan Sahil dari Magelang. Lalu daang pula santri dari Gurah (Kediri) bernama Syamsuddin dan Maulana yang hanya bertahan dua hari karena semua barang mereka ludes diboyong pencuri. Saat itu, Lirboyo masih rentan hal-hal demikian.

1913 – Masjid Pondok Pesantren Lirboyo berdiri, dinding dan atapnya terbuat dari kayu. Dalam perjalanan waktu, masjid ini mulai rapuh. Akhirnya, masjid pesantren direnovasi hingga selesai dan diresmikan pada 1928. Pada 1984, diadakan perluasan dan penambahan serambi muka, lalu ditambah lagi pada 1994.

1925 – Berdirinya Madrasah Hidayatul Mubtadi’in (MHM) sebagai institusi pendidikan agama resmi Pesantren Lirboyo dengan gaya madras (sekolah). Sebelumnya, KH Abdul Karim mengajar para santri dengan gaya klasik khas pengajian, kemudian menjadi lebih terstrukur setelah adanya MHM.

1931 – MHM sudah memliki beberapa lokal. Pada tahun ini, MHM mulai mengalami masa vakum hingga dua tahun. Lalu dihidupkan dan dibuka lagi pada 1933 menjadi lebih berkembang hingga sekarang.

1943 – Digelar latihan baris berbaris bagi para santri hingga tahun 1944 dalam rangka persiapan merebut kemerdekaan bangsa.

1947 – MHM dikembangkan menjadi level ibtidaiyyah dan tsanawiyyah. Pada tahun ini pula didirikannya Madrasah Muallimin sebagai penyempurna.

1977 – Dibuka kelas ‘aliyyah. Demikian perkembangan terus bergulir, penyempurnaan-penyempurnaan pendidikan di Pesantren Lirboyo terus diupayakan oleh keturunan KH Abdul Karim hingga saat ini.

FIGUR

KH. Abdul Karim, lahir 1856 di desa Diyangan Magelang. Wafat pada 21 Ramadhan 1374 H / 1954 di Kediri. Sejak usia 14 tahun mulai menuntut ilmu dari pesantren ke pesantren, mulai dari Babadan Kediri, Cepoko Nganjuk, Trayang, Bangsri, Kertosono, Nganjuk, Sono Sidoarjo, Kedungdoro Surabaya, Bangkalan Madura, hingga Tebuireng Jombang. Beliau adalah pendiri sekaligus pengasuh awal pondok pesantren.

KH Marzuqi Dahlan, lahir 1906 di Desa Banjarmlati Kediri. Wafat pada hari Senin 18 Nopember 1975. Belajar semasa belia di bawah asuhan kakeknya, KH. Sholeh Banjarmlati. Beliau nyantri di Pesantren Lirboyo (Kediri), Pesantren Tebuireng (Jombang), Pesantren Mojosari (Nganjuk), Pesantren Bendo (Pare), lalu di Pesantren Jampes (Kediri). KH. Marzuqi Dahlan menikah dengan Nyai Maryam putri KH Abdul Karim, mulai mukim di Lirboyo tahun 1936.

KH. Mahrus Aly, lahir pada 1906 di dusun Gedongan, Astanajapura, Cirebon. Wafat pada hari Ahad malam Senin 6 Ramadlan 1405 H/ 26 Mei 1985. Beliau adalah putra pasangan KH Aly bin Abdul Aziz dan Nyai Hasinah binti Kyai Sa’id. Setalah nyantri kepada ayah dan kakaknya beliau lanjut nyantri di Pesantren Panggung (Tegal, Jawa Tengah), Pesantren Kasingan (Rembang, Jawa Tengah), Pesantren Lirboyo (Kediri, Jawa Timur), serta ngaji tabarukan di pesantren lain, seperti Pesantren Tebuireng (Jombang), Pesantren Watucongol (Muntilan, Magelang), Pesantren Langitan (Tuban), serta Pesantren Sarang dan Lasem di Rembang. Pada 1938, KH. Mahrus Aly menikah dengan Ny. Zainab, salah seorang putri KH Abdul Karim. Pada masa pengasuhan beliau, lahir sebuah perguruan tinggi agama bernama IAIT (Institut Agama Islam Tribakti) pada 1966.

NGAJI

Di Lirboyo, ada pondok pusat yang terdiri dari belasan asrama dengan mengkhususkan pada pendidikan agama, mulai dari I’dad, Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah, hingga Ma’had Aly. Selain itu, ada juga beberapa pondok unit penyelenggara pendidikan di Pesantren Lirboyo, yakni;

Pondok Pesantren HM Al Mahrusiyyah

Berdiri sejak 1987, menampung siswa, mahasiswa dan mahasiswi yang belajar di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Tribakti (YPIT). Pondok unit ini memiliki beberapa lembaga: PP. HM Putra/Putri Al-Mahrusiyyah, Madrasah Diniyah Al-Mahrusiyyah, Madrasah Murottilil Qur’an Al-Mahrusiyyah, Institut Agama Islam Tribakti (IAIT), Madrasah Alitah HM Tribakti, Madrasah Tsanawiyah HM Tribakti, TK Kusuma Mulia Tribakti, koperasi Pondok Pesantren dan perpustakaan Pondok Pesantren.

Selain mengikuti pelajaran formal pagi dan sore hari, para santri juga melaksanakan beberapa kegiatan lain seperti Manaqib Syekh Abdul Qodir Jailani, Tilawatil Qur’an, Jama’ah Sholat Dhuha, Sorogan Kitab Kuning, Sholawat, Musyawaroh Kubro, Bahtsul Masa-il, dan lain-lain. Pendidikan di sini terbagi menjadi beberapa jenjang: I’dadiyyah (2 tahun), Tsanawiyyah (3 tahun), Aliyyah (3 tahun). Madrasah Diniyyah di unit ini digelar malam hari, karena pagi harinya para santri menuntut ilmu umum. Pada 2004, jenjang tsanawiyyah madrasah diniyyah di unit ini seara dan disamakan dengan jenjang tsanawiyyah lembaga umum, ijazahnya pun sah digunakan untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya di luar negeri, semisal Yaman, Mesir, dan lainnya. Sarana yang tersedia ada puluhan lokal belajar, lapangan basket, lapangan volley, hingga lapangan tenis. Ada juga berbagai kegiatan ekstra seperti Manaqib, Sab’ul Munjiyat, Bela Diri Pagar Nusa, Wushu, Taekwondo, dan sebagainya.

Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat (P3HM)

Berdiri pada 15 September 1985 M. / 01 Muharram 1406 H. Tingkat pendidikan di MPHM ialah; I’dadiyah, Ibtidaiyah, dan Tsanawiyah. Jumlah penghuni unit ini sebanyak 900 santriwati pada tahun 2012. Para santriwati menempati 36 kamar dengan kelengkapan berbagai fasilitas penunjang, seperti perpustakaan, gedung sekolah, aula, toko kitab, rental komputer, wartel, ruang tamu, ruang kesehatan dan beberapa kantin.

Pondok Pesantren Haji Ya’qub (HY)

Berdiri pada 1978. Beberapa kegiatan di unit ini; Pengajian Al-Qur’an, Madrasah Diniyah Haji Ya’qub (MDHY), Musyawarah Wajib MHDY, Muhafadhoh, Jam’iyyah, Rebana, Pencak Silat, Seni Baca Al-Qur’an, Lajnah Bahtsul Masail, Istighotsah, Sorogan Kitab Kuning, Pengajian Kitab Kuning, serta Jam Wajib Belajar Sekolah Formal.

Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat Al-Qur’aniyyah (HMQ)

Berdiri pada 1986. Bergerak dalam bidang hapalan al-Quran. Unit lembaga ini punya lima tingkat pendidikan: I’dadiyah, Ibtida’iyah, Tsanawiyah, Aliyah dan Ma’had Aly. Selain kegiatan hapalan Al-Qur’an, ada pula pengajian kitab-kitab kuning. Di unit ini juga terdapat TPA Al-Karim sebagai tempat mengaji anak-anak kampung sekitar pesantren. Selain itu ada juga berbagai kegiatan tambahan seperi Organisasi K-Fein (Kajian Fikih Interaktif) sebagai wadah pengembangan Musyawaroh & Bahtsul Masa’il santriwati, Jam’iyyah Khithobiyah, Diba’iyyah, Praktek Ubudiyah, Mouzic Holic (Pecandu Musyawaroh Asyik) dan Majalah Dinding ar-Rabiet.

Pondok Pesantren Hidayatul Mubadi-in Anak Tahap Remaja (HM ANTARA)

Unit ini fokus pada pembinaan santri anak-anak dan jelang remaja. Kegiatannya: madrasah diniyah, wajib sholat berjama’ah, istighotsah, pengajian al-Quran, sorogan kitab kuning, pengajian kitab-kitab salaf, jam wajib belajar, dan lainnya. Selain itu, para santri juga mengikuti berbagai kegiatan ekstra kurikuler.

Pondok Pesantren Putri Tahfizhil Qur’an (P3TQ)

Berdiri pada 1986. Selain penghapalan Al-Quran, ada pula pengajian kitab di Madrasah Hidayatul Mubtadi-aat Fittahfizhi Wal Qiro-at (MHMTQ), ada tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah. Di unit ini ada pula organisasi siswi intra sekolah yang khusus menangani sorogan kitab, setoran nazhom, Musyawaroh dan Bahtsul Masa-il. Sebagai tambahan, erdapat banyak kegiatan ekstra, yakni Seni Baca Al–Quran, Jam’iyyah Sholawat, Qiro-at, Diba’i, Barzanji, Manaqib, Khithbah, Kursus Bahasa Arab dan Inggris, Lajnah Pengembangan Bahasa Arab (LPBA), Lajnah Pengembangan Bahasa Inggris (LPBI), hingga Keerampilan Parsel dan Tata Busana.

Pondok Pesantren Madrasah Murottilil Qur’an (MMQ)

Berdiri pada 1977. yang kala itu berupa pengajian Al-Qur’an dengan sistem sorogan. MMQ menjadi lembaga pendidikan Pondok Pesantren Lirboyo yang fokus pada penghapalan al-Quran. Ada lima jenjang di dalam pendidikan MMQ, yakni;

Pertama, I’dadiyah, jenjang dengan waktu setengah tahun. Materi yang dikaji; Buku Turutan A-Ba-Ta, Jet Tempur, mempelajari dan membaca mulai Surah Al-A’la hingga An-Nas. Kedua, Ibtidaiyah, jenjang dengan waktu setengah tahun. Materi yang dikaji; Buku Persiapan Membaca Al-Qur’an, Buku Bonus Agung Yang Terlupakan, mempelajari dan menghapal mulai Surah Al-A’la hingga An-Nas. Ketiga, Tsanawiyah, jenjang dengan waktu setengah tahun. Materi yang dikaji; Buku Standar Tajwid (Fathul Mannan), Manaqibul Auliya’il Khomsin, mempelajari dan menghafal mulai surah Al-A’la hingga An-Nas, Yasin, Al-Waqi’ah dan bacaan-bacaan Ghorib. Ketiga, Aliyah, jenjang dengan waktu satu tahun. Materi yang dikaji; Buku Mari Memakai Rosm Utsmany, sorogan al-Quran mulai Juz 1 sampai Juz 30, menghafal Qishoris Suwar. Keempat, Sab’atul Qiro-at, jenjang dengan waktu dua bulan bagi santri yang sudah selesai setoran al-Quran 30 juz, telah sukses menghafalkan surat-surat pendek (Juz 30, Al Mulk, Al Waqi’ah, Ad-Dukhon, Yasin, As-Sajdah, Al-Kahfi,) dan telah terdaftar sebagai peserta Takhtiman (Khotmil Quran). Meski fokus pada pengkajian al-Quran, di MMQ juga diajarkan ilmu tauhid, fikih, akhlak, hadits, nahwu dan shorof, yang digelar setiap hari, serta beberapa ekstrakurikuler.

AKSES

Alamat: Jl. KH Abdul Karim Lirboyo Mojoroto Kediri Jawa Timur 64117
Kontak: (0354) 773608
Email: lirboyo1910@yahoo.com
Website: www.lirboyo.net

Demikian sekelumit informasi tentang Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Silakan langsung dating ke lokasi untuk merasakan suasananya atau kunjungi situs resminya untuk menggali informasi lebih lanjut. [Madaaris]

2 comments :

© 2011-2014 Informasi Pendidikan Kita. Designed by Bloggertheme9. Powered by Blogger.