Wednesday, 28 October 2015

Perempuan dalam Dunia Pendidikan

Zia Ul Haq     20:24    

Oleh: Ki Hadjar Dewantara (Perguruan Taman Siswa)  

Wasita, Desember 1928, Jilid 1 No.3 

Sudah saya terangkan, bahwa untuk mengetahui perbuatan atau pekerjaan manakah boleh dilakukan oleh perempuan, haruslah kita senantiasa mengingat kodratnya peempuan. Berhubung dengan itu, maka mudahlah kia mengerti, bahwa dunia pendidikan itulah tempat kaum perempuan yang sangat laras dengan kodrat istri, lahir dan batin.
Ibu Soerjoadipoetro berbincang-bincang dengan beberapa siswi Taman Siswa Bandung (Foto: koleksi KITLV)
Apakah kewajiban dan pekerjaan guru perempuan sehari-harinya? Dalam ‘Wasita’ nomor 1 telah diterangkan, bahwa anak-anak kecil itu masih sangat membutuhkan hubungan batin dengan ibu. Karenanya mereka lebih tertarik kepada guru perempuan daripada guru laki-laki. Sesungguhnya untuk memenuhi kemauan dan keinginan anak-anak, untuk melayani nafsu anak-anak, untuk memelihara badan tubuh anak-anak, untuk bercampur gaul sehari-hari dengan anak-anak, memang guru perempuanlah lebih pandai daripada guru laki-laki.

Guru laki-laki, meskipun ia mengerti akan kewajibannya selaku guru dan mempunyai niat juga berdekatan dengan anak-anak, akan tetapi tabiat-tabiatnya sebagai laki-laki tak akan dapat ditinggalkan. Tentang kesabaran, ketelitian, pemeliharaan, cinta kasih, dan tabiat-tabiat lainnya ia tak akan dapat sama umumnya dengan teman sejawatnya, perempuan.

Karena kasarnya tindak laku dan kasarnya angan-angan , maka guru laki-laki iu umumnya tak dapat bergaul secara tertib dan damai dengan anak-anak. Biasanya dalam perhubungan itu si anak hanya ‘takut’, lalu terpaksa berbuat sesuatu yang sesungguhnya tidak cocok batinnya. Lain sekali, kalau anak-anak itu dipimpin oleh guru perempuan. Rasa takut di sini tidak ada, tetapi ‘kecintaanlah’ yang menjadi ikatan antara guru dan murid.

Yang tersebut di muka ini ialah perhubungan batin antara guru perempuan dan murid-murid kecil. Lain daripada itu adalah juga perhubungan lahir, misalnya dalam hal memelihara tubuh anak, bermain-main, berjalan-jalan, mempelajari membaca dan menulis permulaan, dan sebagainya. Semua pekerjaan ini hanya guru perempuanlah yang dapat melakukan dengan kesabaran dan ketekunan.

Oleh karena anak-anak mulai dimasukkan sekolah itu pada umur 5 tahun, maka perlulah sekali tiap-tiap sekolah memakai guru-guru perempuan untuk dijadikan pemimpin-pemimpin anak-anak kecil.

Kalau kelas anak-anak kecil dipegang oleh guru laki-laki, takutlah saya pendidikannya bersifat pengajaran belaka, intelektualistis, artinya lebih mementingkan angan-angan daripada rohnya anak.

Maka dari itu saya serukan; Hai kaum perempuan Indonesia, masuklah ke dunia pendidikan! Di situlah kamu akan merasakan kenikmatan diri, karena kamu bekerja guna kemuliaan rakyat dan bangsa, selaras dengan kodratmu lahir dan batin. [Madaaris]




*Sumber: Ki Hadjar Dewantara, ‘Karja - Bagian IIA: Kebudajaan’, hal 238-239, Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman-Siswa, 1967

0 comments :

© 2011-2014 Informasi Pendidikan Kita. Designed by Bloggertheme9. Powered by Blogger.