Saturday, 31 October 2015

Komunitas Belajar Qoryah Thoyyibah Salatiga

Zia Ul Haq     08:59    

Ada sebuah komunitas belajar yang menjunjung tinggi kreativitas, karya, dan apresiasi, di suatu desa kecil. Komunitas Belajar Qoryah Thoyyibah (KBQT) namanya, berlokasi di Desa Kalibening, Kecamatan Tingkir, Salatiga. Bagaimana profil dan gaya belajar di KBQT? Berikut ini ulasannya; 

LATAR BELAKANG


Pada 1999, terbentuk Sarekat Paguyuban Petani Qoryah Thoyyibah (SPPQT) di Desa Kalibening, sebuah serikat bagi paguyuban-paguyuban para petani yang ada di sana. Organisasi ini diketuai oleh Ahmad Bahruddin. Nama ‘Qoryah Thoyyibah’ sendiri berarti ‘desa sejahtera’, sebuah nama yang diusulkan oleh Raymond Toruan.

SPPQT ini bertujuan untuk mengusahakan pemberdayaan masyarakat desa secara mandiri berbasis potensi lokal, sehingga menjadi desa yang berdaya. Konsep ‘Desa Berdaya’ ini selaras dengan cita-cita Soekarno; berdaulat (politik), berdikari (ekonomi), dan berkepribadian (sosial budaya).

Pada 2003, untuk melengkapi tiga indikator bagi desa berdaya tersebut, dibentuklah suatu komunitas belajar bagi anak-anak desa ini bernama Komunitas Belajar Qoryah Thoyyibah. Selain sebagai pelengkap indikator tersebut, komunitas belajar ini muncul sebab keprihatinan Ahmad Bahruddin atas kondisi pendidikan di Tanah Air yang memilukan. Kualitas yang seadanya, biaya sekolah yang mahal, serta gaya belajar yang monoton, adalah hal-hal yang dirisaukannya.

Ketika anak sulung Bahruddin hendak masuk jenjang SMP, tepatnya di salah satu sekolah favorit dan ternama di Salatiga, ia terusik oleh kondisi sekitarnya. Ia melihat banyak tetangga-tetangga petaninya yang tak bisa menyekolahkan anak-anak mereka sebab tercekik kendala biaya, baik itu biaya pendaftaran, uang masuk, SPP bulanan, hingga ongkos seragam dan buku-buku.

Maka ia pun bermusyawarah bersama para warga untuk menemukan solusi, yakni mendirikan sekolah alternatif sendiri. Ajakannya ini disambut baik oleh 12 orang dari 30 kepala keluarga yang saat itu berkumpul, mereka bersedia menyekolahkan anak-anaknya di SMP alternatif eksperimen ini. Bahkan Bahruddin berani memasukkan putranya itu ke sekolah percobaan ini.

Saat itu, bentuk sekolah ini mengadopsi SMP Terbuka dengan kurikulum reguler dari pemerintah. Meskipun bentuknya berupa sekolah terbuka yang sering dipandang sebelah mata, Bahruddin mengelola pendidikannya dengan sungguh-sungguh. Gaya belajar dialogis dan menyenangkan dipraktekkan di sekolah ini dengan baik, dan tersedia akses internet sehari penuh dari donatur yang tertarik ide Bahruddin. Pada prakteknya, meski jam belajar formal sudah usai, anak-anak betah berlama-lama berada di sekolah bahkan hingga sore hari.

Lokasi yang digunakan sebagai kelas pada saat itu adalah rumah Bahruddin sendiri. Ada sembilan orang pendamping yang berperan sebagai teman belajar siswa. Meski dengan modal seadanya, proses belajar di sekolah ini bisa berlangsung dengan baik dan efektif. Buktinya, siswa-siswi KBQT mulai mencuat di lingkungan pendidikan Salatiga, bahkan nasional. Segudang prestasi berhasil disabet, baik akademik maupun non-akademik, kurikuler maupun non-kurikuler, meliputi bidang musik, teater, sastra, dan sebagainya. Para orang tua pun bangga terhadap sekolah ini, mereka bisa memperoleh banyak hal yang belum tentu bisa diperoleh di sekolah-sekolah berlogika dagang.

Seiring waktu, KBQT terus berkembang melalui dinamika gaya belajar dan perubahan kurikulum yang diterapkan. Hingga saat ini, KBQT masih konsisten mempraktekkan pendidikan alternatif yang berwawasan kemandirian belajar dan apresiasi potensi.

LANDASAN


Sebagai suatu komunitas alternatif, KBQT memiliki pandangan sendiri sebagai pijakan atau landasan dalam pengelolaan praktik pendidikan. Ada empat prinsip sebagai poros gerak yang dipraktekkan dan ditawarkan KBQT.

Pertama, semangat pembebasan dan perbaikan. Hal ini mensyaratkan perilaku kritis, dinamis dan kreatif, tak sekedar dogmatis dan statis. Kedua, asas keberpihakan terhadap siapapun yang berhak memperoleh pendidikan, terutama warga miskin dan tak mampu. Ketiga, kegembiraan sebagai dasar metodologi dalam proses belajar. Hal ini mensyaratkan peran guru sebagai fasilitator dan sikap murid yang dibimbing agar partisipatif. Keempat, prinsip kebersamaan dan partisipasi semua pihak dalam merancang sistem, yakni guru, pengelola sekolah, siswa, orang tua, dan masyarakat sekitar. Hal ini sangat penting agar terciptanya sistem sekolah yang membumi dan melek lingkungan.

Untuk menunjang empat prinsip ini, seluruh komponen harus bisa bersatu dan bersama-sama berperan. Komponen tersebut di antaranya; guru, siswa, sarana penunjang, dan institusi sekolah.

Guru dan pengelola sekolah harus beridealisme tinggi dan komitmen dalam pemihakannya terhadap lingkungan dan kaum lemah, serta mampu menganalisa kondisi sosial. Guru juga harus memahami metodologi pemikiran pendidikan yang terbuka, dan meskipun sudah menguasai materi namun tetap menempatkan siswa sebagai rekan belajar.

Siswa didampingi unuk memahami materi, bukan menghapal bulat-bulat. Materi belajar pun harus sesuai dengan kebutuhan, kontekstual dan mempergunakan lingkungan dan pengalaman sehari-hari sebagai media belajar. Kondisi kelas diupayakan agar demokratis, sanksi yang diberikan merupakan kesepakatan siswa sendiri, begitu pula halnya dengan apresiasi terhadap siswa yang berprestasi. Selain itu, pengukuran capaian siswa tidak hanya melalui nilai nominal, tetapi lebih kepada apresiasi terhadap karya, inovasi kreatif, dan sikapnya.

Sarana Penunjang yang menjadi prioritas adalah akses teknologi informasi, yakni jaringan internet yang menjadi perpustakaan besar bagi siswa. Di samping itu juga pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai ruang dan media belajar, semisal sawah atau lahan pertanian, industri rumahan, tambak, warung, perkebunan, dan banyak lokasi lainnya. Juga penting adanya Tokoh penggerak desa sebagai mediator antara pihak-pihak yang terkait dengan sekolah.

Institusi sekolah menjadikan lingkungan sosial dan alam sekitar sebagai laboratorium. Sehingga proses belajar pun akan menyesuaikan dengan kondisi sekitar, yakni dinamis, progresif, dan kreatif. Dengan kokohnya fungsi empat unsur ini, maka pendidikan alternatif pun bisa terlaksana secara optimal, demikianlah yang diupayakan oleh Komunitas Belajar Qoryah Thoyyibah.

PROSES BELAJAR


Suasana belajar di KBQT (foto: istimewa)
Pendidikan di KBQT setara jenjang SMP dan SMA dengan status sebagai sekolah terbuka. Sekolah ini betul-betul berupaya mewujudkan apa yang menjadi prinsip-prinsip dasarnya, yakni semangat pembebasan, kritis dialogis, kegembiraan, fasilitatif-partisipatif, apresiatif dan kontekstual.

KBQT menerapkan sistem kelas kecil. Satu kelas diisi maksimal hingga 12-an orang, tergantung kondisi. Setiap kelas bebas menentukan namanya masing-masing, semisal Oryza Sativa, Elektrokardiograf, Hikari, dan sebagainya. Mereka juga bebas bersepakat tentang aturan main di dalam kelas, mulai dari jam belajar, jadwal pertemuan tiap harinya, hingga sanksi konstruktif bagi siapapun yang melanggar kesepakatan bersama.

Setiap kelas ditemani oleh seorang pendamping. Fungsi dari pendamping di KBQT tidak seperti guru sebagaimana di sekolah-sekolah pada umumnya. Jika di sekolah-sekolah formal pada umumnya guru menjadi sumber ilmu yang menuangkan secara terus-menerus kepada siswa, maka pendamping di KBQT sangat berbeda. Di sini, pendamping ‘hanya’ menemani siswa untuk mengeksplorasi pengetahuan dan keterampilan masing-masing anak. Pendamping akan menemani proses belajar siswa, membantu mengarahkan passion siswa, mempersiapkan kreasi karya siswa, serta mengevaluasi pencapaian siswa secara periodik.

Setiap siswa dipersilakan memilih subjek apa yang ingin dipelajari dan dikuasainya. Entah pengetahuan umum, sains, sosial, agama, seni, keterampilan, ketangkasan, apapun. Atas pilihannya itu, setiap siswa bertanggung jawab membuat target pencapaian, mencari sumber belajar, mempelajarinya, kemudian mempresentasikannya di hadapan teman sekelas, kemudian mengevaluasi hasilnya. Intinya, siswa hanya mempelajari materi-materi yang menjadi ketertarikannya, dan diupayakan agar bisa total menguasai bidang tersebut serta berkarya sesuai keahliannya.

Tidak ada busana seragam di KBQT, sebagaimana tidak ada jadwal serentak sebagaimana di sekolah-sekolah lain. Dalam sehari, satu kelas bisa hanya bertemu dua sampai tiga jam saja. Kesempatan itu digunakan untuk presentasi tentang materi yang sudah dipelajari secara mandiri, mendiskusikannya, serta merencanakan karya kreatif. Selepas shalat Dzuhur, siswa-siswi muslim berkumpul di serambi masjid untuk tadarus dan saling menasihati, kegiatan ini disebut ‘Tawashi’. Sebulan sekali di KBQT ada Gelar Karya, yakni momen di mana siswa-siswi KBQT menampilkan karya-karya mereka, baik individual maupun berkelompok.

Setiap siswa di KBQT memiliki satu jilid buku dokumentasi pencapaian. Yakni tentang identitas pribadi, target akademis dan bakat, rencana karya, kolom progres karya, evaluasi hasil karya dan pencapaian. Semua kolom di dalam buku ini diisi oleh siswa secara jujur dan mandiri. Adapun pendamping hanya menorehkan catatan-catatan penting di akhir setiap periode semester.

Lalu adakah ujian nasional di KBQT? Tema ini pernah diperdebatkan oleh siswa-siswi di sini. Ahmad Bahruddin sebagai ‘kepala sekolah’ menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada anak-anak, apakah mau diadakan ujian nasional atau tidak. Ada yang sepakat, ada pula yang tidak. Akhirnya, mereka yang sepakat mengikuti ujian nasional diberi syarat oleh mereka yang tidak sepakat, yakni membuat karya tulis tentang ujian nasional. Terbukti, selesai ujian, anak-anak ini membuat satu buku berjudul ‘Lebih Asyik Tanpa UN’ yang diterbitkan luas. Ujian nasional dan ujian semester di KBQT hanya menjadi semacam formalitas, kiriman soal dari Dinas Pendidikan tetap dikerjakan oleh siswa KBQT dengan nuansa yang asyik tanpa ketegangan apalagi pengawasan ketat.

Dalam urusan pembiayaan pun menggunakan proses musyawarah antar-siswa. Berapa yang dibutuhkan dalam pengelolaan sekolah, fasilitas pokok, kegiatan bersama, kegiatan kelas, siswa-siswilah yang menentukan nominalnya. Maka jumlahnya pun akan berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan. Dalam momen-momen tertentu yang berkaitan dengan desa dan lingkungan, anak-anak KBQT diikutsertakan untuk turut terlibat sebagai salah satu bentuk pembelajaran pengalaman.

AKSES:

Alamat: Jl. R. Mas Said No.12 , Kalibening, Salatiga
Telepon: (0298) 311438
HP: 085725691626
Email: qaryah.thayyibah@gmail.com
Facebook  : www.facebook.com/q.thayyibah
Fans Page : www.facebook.com/qaryah.thayyibah
Twitter: @qaryahthayyibah
Website: www.kbqt.org

Demikian sekelumit ulasan tentang Komunitas Belajar Qoryah Thoyyibah. Hingga saat ini, sudah banyak lembaga pendidikan, organisasi, yayasan, maupun individu yang berkunjung ke KBQT untuk ikut belajar dan menimba pengalaman. Untuk informasi lebih detail, termasuk praktek proses pembelajaran, manajemen sekolah, maupun serba-serbi pendaftaran, silakan rujuk langsung ke situs resmi atau kontak di atas. [Madaaris]

0 comments :

© 2011-2014 Informasi Pendidikan Kita. Designed by Bloggertheme9. Powered by Blogger.