Wednesday, 28 October 2015

Empat Ciri Utama Sekolah Alternatif

Zia Ul Haq     19:39    

Oleh: Toto Raharjo (Sanggar Anak Alam, Yogyakarta)

Paling tidak, ada empat karakter sekolah alternatif yang membedakannya dengan sekolah arus utama. Aspek pertama adalah filosofi yang mendasari praktik pedagogisnya. Umumnya, sekolah alternatif menjalankan proses pendidikan dari sudut pandang yang lebih humanistik.

Pendidikan bagi para pelaku pendidikan alternatif bukan sekedar proses menyiapkan pesera didik untuk memasuki dunia kerja agar memperoleh pekerjaan yang bergelimang duit. Sebaliknya, pendidikan mereka maksudkan sebagai proses pembelajaran yang sesungguhnya demi membangun manusia yang utuh.

Ini merupakan perlawanan terhadap kecenderungan sekolah umumnya yang ‘menyembah’ pencapaian akademik. Bahkan dalam skala mondial, data nasional Newsweek melaporkan kian meningkatnya perilaku menyontek pelajar di berbagai Negara di dunia. Berbagai laporan menyebutnya sebagai dampak penekanan berlebihan pada angka-angka cemelang lewat ujian standarisasi.

Sebab itu, sekolah alternatif berjuang membantu anak-anak mengembangkan seluruh komponen kepribadian yang utuh dan sehat, lahir batin. Ringkasnya, mereka percaya pendidikan musti lebih terpadu dan manusiawi.

Kedua, berorientasi pada anak. Sekolah semacam ini berusaha membangun proses pendidikan, yang menghargai peserta belajar sebagai individu yang sedang bertumbuh dalam lingkup alaminya, bukan sekadar anak-anak. Jadi anak diperlakukan sesuai perkembangan fisik dan psikologisnya. Untuk memenuhi keingintahuan sebagai anak, mereka memperoleh ruang untuk mengeksplorasi lingkungan sekitarnya tanpa pengawasan berlebihan dari orang dewasa.

Adalah pemandangan lazim di sekolah-sekolah alternatif anak-anak memanjat pohon atau asyik berkubang lumpur. Sebagian orang tua mungkin memandangnya sebagai sikap abai sekolah yang mengundang bahaya fisik bagi anak. Namun mereka telah membuktikan bahwa meode ini sangat mumpuni dalam mendidik sikap percaya diri dan kemandirian. Anak belajar mengandalkan diri sendiri. Pada saat yang sama, belajar bagaimana bekerja dengan orang lain untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi di alam terbuka.
Peserta belajar asyik bermain (foto: salamjogja.wordpress.com)
Ciri ketiga adalah pendekatan holistik dalam pembelajaran. Mata pelajaran klasik seperti Matematika, Ilmu Alam, Seni, Geografi, dan lainnya, tidak disampaikan dengan cara seperti di sekolah konvensional. Guru-guru sekolah alternatif menyajikannya secara tematik selama kurun waktu tertentu. Katakanlah topik minggu ini tentang ikan, maka semua aktivitas pembelajaran selama minggu tersebut berkaitan dengan ikan.

Peserta belajar mungkin akan melakukan pengamatan lapangan tentang ikan apa yang lazim ditemukan di lingkungan sekitar. Sehingga mereka belajar tentang biologi dan geografi sekaligus. Atau mereka membua karya seni dengan menggambar ikan yang mereka temukan selama observasi. Atau mereka juga bisa membandingkan harga ikan di pasar. Aneka rupa pilihan meode belajar tersedia. Murid dan guru bekerja sama mengembangkan dan mengevaluasi proses belajar yang sesuai dengan konteks tertentu.

Di Sekolah Alam, mereka menyebut metode ini sebagai jarring laba-laba. Dengan demikian, siswa terlatih untuk mengaitkan semua topik yang telah mereka pelajari dengan sesuatu yang bermakna dalam keseharian mereka. Metode pelibatan ini juga membantu mereka mempelajari banyak hal dengan tingkat pemahaman lebih mendalam.

Terakhir, terjalin hubungan yang demokratis antara guru, murid, dan orang tua. Guru tidak berlaku sebagai ‘Sang Segala Tahu’ yang memaksakan isi kepalanya ke dalam ‘wadah-wadah kosong’. Tugas utama mereka adala merawat hasrat ingin tahu para pembelajar belia dengan cara yang memampukan mereka mengalami sendiri proses penemuan pengetahuan. Tentu saja, relasi semacam ini menuntut pembagian peran yang lebi egaliter.

Untuk membuat kerja-kerja eksperimental seperti ini bisa berjalan, tak syak lagi peran orang tua menjadi maha penting. Di Sekolah Alam Ciganjur misalnya, perwakilan orang tua terlibat sebagai pengurus yayasan yang mengelola sekolah itu. Sebagian lainnya ada yang menyumbangkan keahlian mereka, misalnya membuat dan mengelola situs maya milik sekolah, atau membantu penggalangan dana untuk darmawisata yang diadakan sekolah. Jadi guru, murid, dan orang tua ikut menanggung beban dalam menciptakan pendidikan yang baik sebagai suatu komunitas yang demokratis.

Ringkasnya, pendidikan alternatif mencita-citakan system pendidikan yang holistik dan memerdekakan. Sayangnya, sifat eksperimentalnya membuat banyak orang enggan untuk memberikan dukungan. Bahkan banyak sekolah alternatif yang masih berjuang memperoleh ijin resmi dari pemerintah. Karena itu, saatnya untuk memberikan dukungan nyata terhadap inisiatif penting ini. Siapapun yang memimpikan system pendidikan yang lebih manusiawi, musi menjawab panggilan ini. [Madaaris]
 
*Sumber: ‘Sekolah Biasa Saja’, hal 91-94, Yogyakarta: Progress, 2004

0 comments :

© 2011-2014 Informasi Pendidikan Kita. Designed by Bloggertheme9. Powered by Blogger.