Wednesday, 2 September 2015

Meneguhkan Spiritualisme Guru

Zia Ul Haq     07:28    

Oleh: Zia Ul Haq

Semestinya pelajaran Pendidikan Agama di sekolah ditiadakan saja. Tidak usah ada guru agama. Karena semua guru dari mata pelajaran apapun (ilmu alam maupun sosial) yang seharusnya menjadi guru agama, karena di dalam Biologi, Kimia, Sejarah, Ekonomi, terkandung nilai-nilai relijius.

Sedangkan materi-materi agama yang bersifat teknis seperti pemahaman hukum (fikih) dan praktek ritual-ritual bisa dikerjasamakan antara sekolah dan pesantren (atau seminari, padepokan) yang sudah ada. Sehingga akan ada integrasi antara junior (persekolahan modern) dengan senior (pesantren salaf). Itu idealnya. Kalaupun Guru Agama masih tetap dipertahankan, harus dipertimbangkan lagi apa fungsinya.

Guru mengajar (foto:antara)
Corak pendidikan Nusantara dari dulu selalu berdasar kepada filosofi relijius dan spiritual, yakni upaya mencapai ketenteraman jiwa dan kedamaian hidup. Tidak sekedar pengupayaan aspek-aspek material demi kelangsungan kehidupan duniawi saja.

Tetapi keadaan saat ini sudah terlanjur sekuler dan absurd. Setelah Nusantara berada di bawah kabut penjajahan, mulailah nilai-nilai mulia pendidikan terdistorsi dengan munculnya sekolah-sekolah sekular. Fungsi sekolah-sekolah bentukan kolonial ini pada dasarnya adalah untuk memenuhi kebutuhan pekerja-pekerja dan pegawai-pegawai yang bisa dimanfaatkan demi kekuasaan penjajah saat itu.

Saat ini, kehadiran Pendidikan Agama di sekolah hanya sebagai pemantas saja, daripada tidak ada, biar tidak dianggap sekuler, padahal justru semakin menunjukkan sekulerisme. Satu minggu hanya dua jam pelajaran agama dan berharap mengukir karakter anak-anak yang relijius? Bullshit itu! Nilai-nilai relijiusitas harusnya diukir melalui semua mata pelajaran.

Dua jam pelajaran dalam satu minggu hanya bisa membuat anak-anak sekolah itu 'tahu' dan kemudian 'hapal' tentang materi agama, untuk digunakan di saat ujian tertulis nantinya. Penambahan jam mata pelajaran agama atau mengujikannya di ujian akhir nasional pun tidak akan berpengaruh apa-apa selain menambah kepusingan anak-anak sekolah itu.

Maka jangan heran jika banyak anak sekolahan yang hobi tawuran, ngedrugs, dan seks bebas. Atau sebaliknya; berpemahaman agama secara sempit dan kaku, tidak luwes dan penuh kebencian. Lha wong sistem pendidikannya sekuler materialistis kok, tujuannya bukan lagi penempaan pola pikir dan kemapanan psikis. Dan para guru tidak bisa dan tidak boleh mengelak dari tanggung jawab ini.

Lalu bagaimana solusinya? Ya seperti yang sudah disinggung di atas; musti ada integrasi antara sekolah modern dengan pesantren salaf, dan difasilitasi oleh pemerintah, kalau mau. Sehingga akan ada interaksi tanggung jawab dalam proses ini, tidak ada lagi dikotomi 'pendidikan umum' dan 'pendidikan agama', karena semuanya termasuk dalam pendidikan spiritual.

Seperti perkataan Rabindranath Thakur, seorang sastrawan dari India;

"The highest education is that which does not merely give us information but makes our life in harmony with all existence; pendidikan tertinggi bukanlah yang sekedar memberikan kita informasi, tetapi membuat hidup kita harmonis dengan segala yang ada."

Jangan kau pikir ketika kau mengajar Bahasa kau terlepas dari tanggung jawab spiritual dan kemanusiaan. Jangan kau kira pengajaranmu tentang anatomi tubuh manusia dalam Biologi tak ada kaitannya dengan ayat-ayat Tuhan. Apalagi ketika kau mengajar seni, entah itu teater, rupa, ataupun musik, kau sangat berkewajiban mengantarkan anak didik menuju Tuhan dengan nilai-nilai artistik. Sehingga akan berlaku ungkapan kemesraan relijius ini:

"Lawlaa murobbii maa 'aroftu Robbii; jika bukan sebab guruku, tidaklah kukenal Tuhanku.."
Pertanyaannya, apakah para calon guru (berasal dari Bahasa Sansekerta yang berarti; pembimbing spiritual) mau berpikir demikian? Dan apakah para penentu kebijakan pendidikan siap? Kalau tidak ya kita lakukan saja sendiri, dengan langkah sesederhana apapun, gerilya! [Madaaris]

*Sumber: gubuk-cahaya.blogspot.com

0 comments :

© 2011-2014 Informasi Pendidikan Kita. Designed by Bloggertheme9. Powered by Blogger.