Sunday, 4 February 2018

Sekolah Tanpa Seragam, Guru, dan Mata Pelajaran

Zia Ul Haq     02:22    
Oleh: Titah AW untuk VICE
Sanggar Anak Alam (SALAM) di Yogyakarta punya kurikulum berbasis riset, mendekatkan lagi sekolah ke kehidupan, dan memerdekakan siswanya.

Angin sepoi dari sawah menyusup lewat rongga dinding bambu menuju ruang kelas di Sanggar Anak Alam (SALAM). Tak ada bangku-bangku berjejer kaku, di ruangan itu hanya ada satu meja kayu panjang yang dipakai bersama layaknya meja makan di rumah. Nane, salah satu siswa kelas 7 sedang duduk tepekur membaca buku soal tanaman obat herbal. Semester ini ia memilih riset soal obat herbal, “Semester lalu aku riset soal tanaman, baru semester ini aku kembangkan riset soal tanaman herbal. Nanti pengin bikin obat batuk sendiri.” Buku yang ia pegang berhias lipatan di ujung-ujung halamannya.

Duduk di sampingnya, Jeno tengah meriset soal Tari Salsa. Ia sedang membuat sketsa seorang penari berkostum warna-warni. Ada juga Ellena yang belajar soal shampo organik, Nil yang meneliti kopi, dan teman-teman lain yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Tak ada komando dari guru untuk membuka buku di halaman tertentu atau ujian kelas tiap minggu, begitulah rutinitas sehari-hari sekolah di SALAM.

Lalu pelajarannya apa? Gurunya ngapain? Tugas-tugasnya mana?

Jawaban dari semua pertanyaan itu singkat saja. Tidak ada.

Sekolah yang didirikan di tengah area persawahan di daerah Nitiprayan , Yogyakarta, ini membalik tatanan pendidikan yang selama ini kita tahu. Sri Wahyaningsih (akrab disapa Wahya), pendiri SALAM memulai sekolah ini pada tahun 2000 lalu dengan kurikulum yang berbeda, yaitu berbasis riset. Jika di sekolah formal, tiap semester anak-anak wajib mengikuti 8-10 mata pelajaran yang sudah ditentukan oleh sekolah, di SALAM mereka memilih sendiri topik riset mereka, baru mengembangkan risetnya ke pengetahuan lain. Nane misalnya, dari riset soal obat herbal, ia jadi harus belajar juga soal jenis tanaman herbal, cara bertanam, sakit-penyakit, metode pengobatan, industri obat-obatan, bahkan soal roda ekonomi yang bergulir di isu soal obat. Dari satu topik, pengetahuan meluas meliputi berbagai macam hal. Dengan metode seperti ini, pengetahuan yang muncul adalah pengetahuan yang benar-benar dibutuhkan oleh siswa. Tak akan ada pertanyaan galau macam “Kemaren itu susah-susah belajar fisika gunanya buat apa ya?” atau “Ujian matematika disuruh ngitung ribet banget, padahal tiap hari yang kepakai gini doang?”

Menurut Wahya, dengan riset, anak-anak jadi punya pemikiran kritis dan punya solusi. Karena mereka memilih sendiri topiknya, jadi tidak ada pengetahuan yang dipaksakan. Bahkan banyak dari mereka yang sudah punya penghasilan sendiri, karena tak jarang produk hasil riset mereka bisa langsung dijual. SALAM juga punya kegiatan bernama Pasar Legi dan Pasar Ekspresi di mana siswa-siswanya boleh menjual produk hasil buatan mereka sendiri.

Di SALAM, mata pelajaran di sekolah formal justru dianggap seperti kotak yang membatasi insting eksplorasi siswa. Tak cukup dengan diberi batas, siswa dipaksa memenuhi beban nilai yang sangat berat. Menelan ilmu-ilmu yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. “Di sekolah formal saya melihat mereka banyak belajar sesuatu yang belum pas di usianya. Misalnya anak SD belajar tugas MPR-DPR, prosedur cari KTP, Pemilu, itu ngapain? Untuk apa? Harusnya kan mereka belajar soal diri sendiri, potensi diri, apa yang dia lakukan, dan kebutuhan dasar mereka,” ujar Wahya.

Kesadaran Wahya soal model pendidikan yang tidak efektif pertama kali muncul saat ia mengikuti kegiatan Romo Mangun (YB Mangunwijaya) di bantaran Kali Code, Yogyakarta. Namun, embrio SALAM justru ia bentuk di daerah Lawen, Banjarnegara. Saat itu ia yang baru menikah memutuskan pindah ke sana. Di Lawen yang saat itu masih merupakan desa terpencil, ia melihat banyak anak putus sekolah, menikah dini, dan tingkat kemiskinan yang tinggi. Akhirnya, pada 1988 terbentuklah SALAM yang pertama dengan format kelompok belajar.

Menurutnya, orang di desa tidak termotivasi untuk menyekolahkan anak mereka, karena biasanya ketika anak sudah jadi siswa sekolah, mereka tidak mau lagi membantu keluarga di sawah. “Kita itu negara agraris, tapi pemerintah malah bikin program cuci tangan dengan sabun, kesannya tanah itu jadi kotor dan tidak higienis. Anak jadi jauh dengan sawah. Di Papua juga, dulu kaki-kaki mereka nggak apa-apa kena duri di hutan, tapi sejak ada sekolah lalu mereka wajib pakai sepatu kaki jadi manja, malah nggak biasa masuk hutan lagi. Padahal itu lingkungan mereka. Menurut saya, sekolah justru mencabut mereka dari akarnya, menjauhkan mereka dari lingkungan dan kehidupan yang sesungguhnya,” ujar Wahya.

Berdirinya SALAM di Yogya pun bertahap dan terus berkembang secara organik. Pada tahun pertamanya, SALAM baru membuka kelas pendampingan remaja tiap sore. Baru pada 2004, didirikan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), dan Taman Anak tahun 2006. Jenjang Sekolah Dasar (SD) juga baru ada tahun 2008. Diikuti SMP tahun 2011. Bertahan agak lama, baru pada 2017 orang tua murid meminta Wahya untuk mendirikan SMA. Saat ini status hukum SALAM masuk kategori Pendampingan Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) sebagai sekolah non-formal. Kategori ini masih di bawah Dinas Pendidikan Nasional.

Tapi demi urusan legalitas dan birokrasi, siswa SALAM masih mengikuti ujian kejar paket penyetaraan dari pemerintah. Jadi ketika mereka di kelas 6 SD, 3 SMP, dan 3 SMA yang mereka lakukan untuk persiapan ujian adalah riset soal Ujian Nasional. Tapi alih-alih menjawab soal, mereka justru mengevaluasi soal Ujian Nasional itu. “Anak-anak itu nemu banyak soal UN yang salah, jawabannya salah, juga banyak yang sebenernya nggak perlu ditanyakan, malah mengevaluasi soal pemerintah,” cerita Wahya tertawa. Dengan evaluasi soal UN ini, mereka ingin siswanya tidak terjebak pada metode hafalan.

Alih-alih guru, tiap kelas di SALAM diampu oleh 3 fasilitator. Tugas mereka hanya mendampingi riset yang dilakukan oleh siswa. Mereka bahkan tak berhak mengatur jalannya kelas. Karena kelas berjalan sesuai dengan kesepakatan yang dibuat oleh siswanya sendiri. Pelajaran agama tak diberikan di sekolah karena menurut Wahya itu jadi tanggung jawab orang tua. Selama risetnya, anak-anak dibatasi menggunakan gadget. Buku dan narasumber dijadikan rujukan pertama, baru jika sudah benar-benar kesulitan siswa boleh menggunakan gawai berinternet. Di akhir semester, hasil riset dipresentasikan dalam berbagai bentuk seperti pameran atau pertunjukan. Dengan metode seperti ini, anak-anak dilatih untuk memerdekakan diri mereka. Belajar apa yang mereka sukai, menemukan pengetahuannya sendiri.

Satu-satunya batas yang diberikan ke anak adalah pemilihan topik riset, yaitu harus apa yang sehari-hari mereka lihat atau pegang. “Masak iya di sini mau belajar roket, padahal kita enggak pernah lihat roket beneran, itu enggak akan ngaruh ke masa depan mereka. Kami nggak minta riset yang gede kok, supaya tidak terlalu berjarak dengan lingkungan,” cerita Erika, fasilitator relawan yang mendampingi kelas 7. “Di sini aku jadi menghargai proses anak-anak, ada yang cepet, ada yang lambat. Di titik itu aku mengerti anak-anak berkembang dengan cara sendiri-sendiri,” ujar Erika.

Andy Hermawan, fasilitator kelas 5 SD juga bercerita soal siswa-siswanya. “Kami sedang riset soal kangkung dan kemangi lewat dua media tanam, tanah dan aquaponik. Nah dari situ, kita belajar bahwa kangkung dan kemangi banyak tumbuh di Asia Selatan. Jadi belajar geografi juga, negara di Asia Selatan apa aja, ibu kotanya apa aja, mata uangnya apa. Jadi meluas gitu,” ujarnya sumringah.

Dalam evaluasi siswa, mereka menghindari menghakimi menggunakan angka. Semua laporan berbentuk naratif dan menyoroti perkembangan siswa, bukan kecakapan siswa dalam sebuah topik tertentu. Dengan begini, siswa tak merasa rendah diri, dan terhindar dari sifat kompetitif dengan temannya.

Meski pengetahuan yang ada di SALAM terlihat sangat sporadis, sebenarnya Wahya dan para fasilitator merancang empat pilar pengetahuan pokok yang wajib ada: pangan, kesehatan, lingkungan, dan sosial budaya. Empat pilar ini adalah hal yang menopang dan berhubungan langsung dengan kehidupan keseharian kita.

SALAM percaya bahwa cara belajar dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh tiap anak itu berbeda. Penyeragaman pendidikan justru akan mematikan potensi dan kepribadian anak itu sendiri. Maka kalau anak terjebak pada sistem pendidikan tersebut, bukan tak mungkin ia hanya akan jadi sekrup-sekrup di pabrik yang kapan saja bisa diganti dengan mudahnya. Pendidikan kita yang praktikal dan generik mengarahkan kita jadi produk-produk industri, seperti yang diilustrasikan Pink Floyd di lagu “Another Brick in The Wall”. Seolah antara ‘terpelajar’ dan ‘berijazah’ adalah dua hal yang sama sekali berbeda.

“Pemerintah kita nggak mendesain pendidikan sesuai dengan Bhineka Tunggal Ika. Penyeragaman itu kan sebenarnya menodai slogan itu sendiri. Pendidikan di sini sama di Papua kan harusnya beda, tapi sekarang disamakan. Kalau standarnya dibuat satu, jadinya memarjinalkan. Itu luar biasa bahaya,” ujar Wahya berapi-api.

Menurutnya, harusnya pemerintah cukup menentukan capaian atau kompetensi dasar untuk pendidikan, “Cukup blueprint-nya aja, prakteknya harusnya diserahkan pada institusi pendidikan. Nah tiap sekolah harusnya punya visi misi sendiri, jadi yang daftar juga berarti sepakat dengan visi institusi itu.”

Saat ini, mulai muncul banyak sekolah alternatif baru di berbagai daerah. Di Yogyakarta saja, selain SALAM ada Sekolah Akar Rumput, Sekolah Tumbuh, dan lainnya. Belum lagi sekolah-sekolah yang muncul di daerah lain di Indonesia. Oktober 2016 lalu, beberapa pegiat sekolah alternatif se-Indonesia berkumpul di SALAM untuk membentuk Jaringan Pendidikan Alternatif dan kegiatan Pertemuan Nasional Pendidikan Alternatif untuk menularkan semangat ini ke publik yang lebih luas.

“Sekolah itu harus kritis, kalau enggak nanti kayak sekolah gajah. Gajah dulu kan ngamuk pas hutan mereka di rusak, eh setelah dididik, sekarang mau disuruh ngangkutin gelondongan kayu atau main sirkus. Kalau nggak kritis, kita cuma akan jadi buruh-buruh aja. Enggak punya inisiatif, enggak punya ketrampilan, enggak punya ciri khas masing-masing. Kami sangat menghindari penyeragaman dalam bentuk apapun.”

*Sumber: VICE

Saturday, 3 February 2018

Pendidikan yang Ber-adab

Zia Ul Haq     18:31    
Oleh: Rijal Mumazziq Zionis*

Jika anak berprestasi, orangtua biasanya menepuk dada dengan bangga bahwa itu adalah hasil didikannya. Kalau anak bandel, orangtua menyalahkan para guru. Menuduhnya tidak becus dalam mendidik anak. Ortu lupa kalau pendidikan itu bukan hanya di sekolah, tapi juga di rumah.

Jika ada tindakan pendisiplinan dari guru kepada murid, meskipun hanya menjewer, ortu lapor polisi. Ini ortu cemen. Kasus guru dipenjara di Sidoarjo menjadi bukti bahwa HAM hanyalah karet yang berlaku bagi anak, bukan guru yang rawan dikriminalisasi.

Kalau ada siswa sok jago lalu menantang guru berkelahi, yang repot ya gurunya. Meski guru punya keahlian bela diri, meladeni bocah ingusan itu: menang tidak kondang, kalah malu-maluin. Memang, selain kesabaran dan ketangguhan mental, guru harus punya faktor "penggentar", khususnya bagi guru yang mengajar siswa level SMP-SMA.

Di Indonesia, pendidikan sudah menjadi industri. Relasi guru, ortu dan siswa tak ubahnya mekanisme industrial kapitalistik. Sebagaimana mesin, waktu dan kemampuan sebagian besar guru dihabiskan untuk mengurusi hal-hal yang bersifat teknis dan mekanis. Akhirnya, guru bukan diGUgu lan ditiRU, tapi diGUyu lan ditinggal tuRU. Sentuhan manusiawinya mulai hilang. Ada dehumanisasi dalam  pendidikan kita. Sebagaimana industri, siswa hanyalah "produk" yang disiapkan menjadi A, B, C yang menjadi bagian mesin besar bernama kapitalisme.

Dehumanisasi pendidikan Indonesia bermula pada saat pemikiran pendidikan Ki Hadjar Dewantara dijadikan fosil, hanya didengung-dengungkan mottonya, foto beliau hanya menjadi penghias uang Rp 20.000 dan pajangan dinding kelas, tapi gagasan-gagasannya mengenai peran guru dan siswa tidak pernah dipraktekkan dalam kenyataan. Padahal ijtihad beliau dalam mengupayakan pendidikan yang khas dengan karakter (anak) Indonesia sangat bagus. Wadah Taman Siswa (nah, namanya saja keren: Raudlatut Thalibin) yang menjadi pilot-project beliau pada akhirnya malah "dimatisurikan" saat Orde Baru.

Yang paling kasihan dalam dunia pendidikan kita itu ya guru dan murid. Setiap kali menteri pendidikan ganti, saat itu pula kurikulum berganti. Sejak era CBSA, kemudian KTSP, lalu K13, kini entah apalagi. Pola semacam ini tumbuh di hulu, pusat. Seringkali para perumus kebijakan bukanlah praktisi yang pernah menjadi guru, melainkan hanya teoritisi-akademisi saja. Sehingga ketika diterapkan di lapangan, segala konsepsi-idealis bertabrakan dengann realitas yang ada.

Gugurnya Pak Guru Budi di Sampang hanyalah puncak dari fenomena gunung es betapa rawannya posisi dan perlindungan seorang guru. Saat ini banyak orangtua yang hanya melihat guru sebagai jasa penitipan anak, bukan pemahat jiwa. Kalau anaknya bermasalah dan rewel, ortu kerap protes. Apalagi kalau ada tindakan fisik. Ortu belum menyadari apabila faktor kenakalan siswa bisa bermula di dalam lingkungan keluarga maupun pergaulan di luar sekolah.

Kalau anda orangtua, pertama-tama ajaklah anak-anakmu sowan kepada gurumu. Perkenalkanlah mereka kepada para gurumu agar mereka tahu orangtuanya punya pendidik. Secara kasat mata anakmu akan melihat interaksimu, gaya duduk dan bicaramu, dan caramu memperlakukan gurumu. Ini adalah pendidikan karakter. Tak perlu banyak bicara, anakmu akan belajar adab melalui dirimu. Dia akan bersikap sepertimu ketika dia berhadapan dengan gurunya.

Saya pernah mengkaji pemikiran Paulo Freire dan Ivan Illich. Dua teori kritis dalam pendidikan. Saya menggunakannya sebagai kacamata analisis melihat semrawutnya dunia pendidikan di Indonesia secara makro. Tapi secara mikro dan personal, saya tetap menggunakan Ta'limul Muta'allim karya Syekh Az-Zarnuji maupun Adabul Alim wal Muta'allim karya KH. M. Hasyim Asy'ari. Saya tidak peduli tuduhan kalau dua kitab ini melazimkan hegemoni guru terhadap murid, feodalistik, kuno dan sebagainya. Sebab, bagi saya, yang paling penting dalam menuntut ilmu itu adalah keberkahan.

Wallahu A'lam Bisshawab.

*Direktur Penerbit Imtiyaz Surabaya

Thursday, 29 December 2016

PER ASPERA ad ASTRA: ASTRA, PERUSAHAAN BESAR KEBANGGAAN BANGSA

Zia Ul Haq     14:39    
Oleh: Zia Ul Haq

Per Aspera ad Astra adalah motto dari ASTRA Group yang maknanya sangat dalam, yaitu berjuang dan menembus segala tantangan untuk mencapai bintang. Sudah 58 tahun ASTRA berdiri dan ada untuk bangsa Indonesia. Perusahaan besar ini memiliki cita-cita sejahtera bersama bangsa, dimana setiap langkah yang ada di ciptakan dan di maknai dan di filosofikan demi untuk kemajuan bangsa ini.

Sebagai sebuah corporate besar di kawasan Asia, maka ASTRA menjadi sebuah kebanggaan bagi bangsa. Melalui 198 anak perusahaannya yang bergerak di bidang otomotif, keuangan, alat berat, agribisnis, infrastruktur dan logistik serta teknologi informasi ASTRA fokus untuk terus menghasilkan produk dan jasa yang terbaik dan berkualitas untuk negeri ini.

Sudah tidak asing lagi anak-anak perusahaan di Grup Astra memiliki track record yang baik di masyarakat. Contohnya di bidang otomotif ada Toyota dan Honda yang produknya sudah dinikmati oleh masyarakat luas. Kemudian di bidang alat berat ada perusahaan United Tractor serta Pama Persada yang sudah terkenal di bidang pertambangan atau mining.

Pada perjalanannya, ASTRA selalu berusaha untuk mengelola manajemen internal mereka dengan baik sehingga walaupun ada berbagai kendala eksternal, grup perusahaan ini selalu siap menghadapinya. Hal ini dibuktikan dengan setiap segmen usaha atau anak perusahaan yang ada menjadi perusahaan yang besar dan sehat.

Belum lama ini, pada tahun 2015 ASTRA Grup mendapakan penghargaan sebagai Asia Best Company, serta Best Corporate Governance. Pengakuan dari pihak luar ini juga memberikan bukti nyata bahwa ASTRA Grup memang dalam pengelolaannya selalu memberikan terbaik untuk perusahaannya.

Bagi bangsa Indonesia sendiri, kita seharusnya patut berbangga dengan adanya ASTRA Grup ini karena apabila kita lihat jejak perjalanan grup perusahaan ini banyak sekali yang sudah diberikan untuk bangsa ini. Berbagai macam bentuk Corporate Sosial Respons telah diprogramkan, diimplemetasikan dengan baik oleh ASTRA Grup. Implementasi CSR itu meliputi berbagai bidang, semata-mata dilakukan demi mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia.

Melalui berbagai program CSR yang dilakukan ASTRA, diharapkan perusahaan ini tidak hanya menjadi perusahaan besar saja akan tetapi juga ikut tumbuh dan berkembang bersama negeri ini. Sesuai dengan cita-citanya yaitu sejahtera bersama bangsa. Selain melalui berbagai program CSR, ASTRA Grup melalui berbagai yayasan yang dimilikinya aktif bergerak dan mendukung program-program pemerintah yang ada. Seperti Yayasan Astra Bina Ilmu dimana yayasan ini fokus pada bidang pendidikan dengan cara menghasilkan sumber daya manusia yang terampil memiliki softskill serta hardskill sehingga siap untuk menghadapi dunia kerja terutama di bidang otomotif.

Kemudian ada Yayasan Dharma Bhakti Astra yang berdiri pada tahun 1980. Yayasan ini bergerak dan fokus pada pembinaan Usaha Kecil dan Menengah (UMKM). Pembinaan dan pelatihan yang dilakukan pada nantinya diharapkan agar dapat memberikan sumbangsih bagi usaha tersebut agar lebih besar dan maju. Banyak perusahaan yang besar di Indonesia tetapi tidak banyak perusaaan besar yang mau dan ingin dengan langkah-langkah nyatanya ingin agar usaha kecil dan menegah yang ada di negerinya juga dapat tumbuh dan berkembang bersama.

Kemajuan ASTRA Grup bukanlah suatu hal yang didapatkan secara instan, sebuah perusahaan yang dulu hanya memiliki empat karyawan sampai sekarang mencapai dua ratus ribu lebih karyawan tetap. Butuh komitmen, kerja keras serta integritas yang tinggi. Budaya inilah yang senangtiasa di jaga oleh ASTRA dari dulu, sekarang dan untuk masa depan.

ASTRA Grup memiliki tujuan jangka panjang yaitu sebagai Astra, Pride for Nation pada tahun 2020. Tujuan ini sampai saat ini terus dikejar dengan melakukan berbagai hal.  Pada perkembangan perusahaan sendiri, ASTRA telah mencatatkan berbagai kemajuan yang besar diantaranya laba yang di atribusikan pada entitas induk tercatat sebesar Rp. 14,464 miliar. Total asset yang dimiliki tercatat sebesar Rp. 245,435 miliar, kemudian pendapatan bersih tercatat sebesar Rp. 184,196 miliar. Jumlah anak perusahaan yang berada di bawah naungan ASTRA Grup sampai saat ini tercatat 198 buah anak perusahaan. Untuk laba bersih per saham ASTRA Grup tercatat Rp. 357, Dividen per saham Rp. 177, dan untuk Kapitalisasi Pasar tercatat sebesar Rp. 242, 9 miliar.

ASTRA Grup juga telah melakukan banyak hal yang melibatkan banyak orang dalam kegiatan berkemajuannya untuk bangsa ini. Tercatat ASTRA Grup memiliki karyawan tetap sebesar 221,046. Jumlah pelatihan Management Development Institute oleh ASTRA yang telah dilakukan sebanyak 55 kali training atau pelatihan, dimana pelatihan tersebut melibatkan sebanyak 1,746 orang peserta. Untuk jenis pelatihan lingkungan kesehatan dan keselamatan kerja & tanggung jawab sosial, ASTRA Grup telah melakukan pelatihan sebanyak 31 pelatihan atau training, dengan jumlah peserta 463 orang. Kemudian proyek inovasi yang telah dilakukan sebanyak 743,819 proyek.

Kontribusi ASTRA Grup pada lingkungan, kesehatan dan keselamatan juga memiliki jejak rekam yang baik dan semakin baik. Pada penurunan intensitas oli ASTRA Grup tercatat telah mengalami penurunan sebanyak 63%, kemudian penurunan pada intensitas air juga ercaat sebanyak 14%, dan 25% penurunan pada intensitas pengunaan energi. Penurunan intensitas emisi gas rumah kaca tercatat sebesar 22%, dan 59% penurunan tercatat untuk intensitas pengunaan limbah cair B3.  Untuk limbah cair non-B3 tercatat penurunan intensitas sebanyak 47%, dan 26% penurunan pada intensitas limbah padat B3. Terakhir, untuk limbah intensitas limbah padat non-B3 tercatat penurunan sebesar 8%.

Pada bidang pendidikan tercatat sudah berbagai program yang rutin dilaksanakan seperti Sekolah Binaan Astra (Hardware, Brainware, Software) tercatat sudah ada 14,978 sekolah binaan, kemudian ada juga program Guru Binaan dimana sampai saat ini tercatat sebanyak 33,220 orang. Siswa binaan tercatat sebanyak 38,996 orang. Untuk program beasiswa tercatat sudah ada 207,201 orang yang telah menerimanya. Program Paparan Indonesia Ayo Aman Berlalu Lintas tercatat sudah ada 24,060,160 orang, dan masih banyak lagi program di bidang Pendidikan yang telah dilakukan oleh ASTRA Grup. Paparan diatas hanyalah sedikit dari banyak program yang telah dilakukan.

Pada bidang lingkungan, ASTRA Grup juga aktif melakukan banyak program diantaranya adalah program penanaman pohon dimana telah tercatat sebanyak 3,567,237 batang pohon telah ditanam. Khusus untuk pohon Mangrove juga telah dilakukan penanaman sebanyak 832,046 batang pohon Mangrove. ASTRA Grup juga telah membuah program Hutan Kota sebanyak 11 buah dan 10 buah untuk program Taman Kota. Ini adalah sedikit contoh program ASTRA  Grup di bidang lingkungan, masih banyak program lain di bidang ini.

Pada program Income Generate Activity, ASTRA Grup juga telah bergerak untuk melakukan banyak kegiatan. Seperti penyerapan tenaga kerja sebanyak 61,385 orang, kemudian masyarakat penerima program tercatat sudah sebanyak 33,602 orang. Program pembinaan UMKM YDBA sebanyak 9,182. Jumlah pemuda putus sekolah yang dibina dengan training mekanik sebanyak 588 orang. Dan jumlah lembaga keuangan mikro yang telah didirikan sebanyak 10 buah lembaga. Serta masih banyak lagi program yang ada.

Kesehatan merupakan satu hal mutlak yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan manusia, ASTRA Grup juga menyadari hal ini. Oleh karena itu, di buatlah program kesehatan seperti pengobatan gratis sebanyak 116,093 orang. Pembinaan posyandu sebanyak 1,547 serta donasi kacamata sebanyak 9,048 buah kacamata.  Kantong darah sebanyak 174,489 juga sudah berhasil dikumpulkan dan diberikan oleh ASTRA Grup kepada orang-orang yang membutuhkan.

Paparan banyaknya kegiatan yang sudah dilakukan oleh ASTRA Grup membuat kita semakin sadar, betapa berharganya perusahaan ini untuk kemajuan negeri ini. Akhir kata, semoga ASTRA Grup dan Indonesia dapat maju bersama dan sejahtera bersama. Per Aspera ad Astra.

Saturday, 14 May 2016

Runtuhnya Kewibawaan Pendidikan yang Berorientasi Kepada Nilai

Zia Ul Haq     20:13    
OLEH: IMRON ROSYADI

Mencermati kecelakaan terbesar sepanjang sejarah Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) Tahun 2016 yang dialami oleh SMA Negeri 3 Semarang, Jawa Tengah, dimana sejumlah 380 siswa reguler jurusan IPA tidak ada yang lolos satupun dalam penjaringan nasional calon mahasiswa di Perguruan Tinggi Negeri.


Masing-masing melemparkan tanggung jawab dan saling menyalahkan satu sama lain. Pihak Panitia SNMPTN menuduh SMA 3 Semarang melakukan kesalahan fatal dengan tidak menginputkan salah satu nilai di beberapa semester, yang seharusnya dalam peraturan penjaringan SNMPTN melalui sistem Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS).

Sedangkan pihak SMA 3 Semarang menuduh Panitia SNMPTN tidak profesional dalam mengelola sistem PDSS, dimana seharusnya ketika ada salah satu mata pelajaran yang tidak dientry ada "Early Warning System" atau semacam peringatan sebelum database disubmit akhir.

Siapa yang menyangka Peraih Medali Emas Olimpiade Sains Nasional tidak Lolos SNMPTN, Siapa yang menyangka sekolah favorit di Kota Semarang bahkan mungkin di Jawa Tengah sebagian besar siswanya tidak lolos SNMPTN. Siapa yang menyangka putra-putri terbaik dengan segudang prestasi di SMA 3 Semarang tidak lolos SNMPTN karena sebuah sistem?

Mari kita mendudukkan permasalahan dengan jernih. Bahwa SMA 3 Semarang menerapkan sistem pembelajaran berbasis SKS (Sistem Kredit Semester) seperti perkuliahan. Dalam hal ini menggunakan Sistem SKS Discontinue atau Sistem SKS on/off.

Dalam sistem ini memungkinkan siswa untuk memilih mata pelajaran di salah satu semester, tetapi di semester lain mapel tersebut tidak muncul. Karena sudah diambil di semester tersebut.
Pihak Panitia berdalih, jika kesalahan ada pada sistem, tidak mungkin sekolah lain yang menggunakan sistem SKS yang sama bisa aman dan lolos SNMPTN.

Sementara Pihak SMA 3 Semarang tetep ngotot seharusnya ada peringatan jika ada kesalahan input dalam sistem, sehingga bukan memproses kesalahan di final penyelenggaraan SNMPTN tetapi bisa dicegah dengan peringatan pada proses entry data di PDSS.

Entah siapa yang benar dan siapa yang salah, yang jelas sejumlah 380 siswa kehilangan salah satu haknya untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri Favorit yang mereka dambakan.

Meski masih ada 2 proses penjaringan PTN lagi yaitu Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dan Ujian Masuk (UM) di masing-masing Perguruan Tinggi Negeri, tetapi kekecewaan para siswa semakin memuncak, mereka seakan putus asa tiga tahun mengejar nilai, si-sia hanya karena kesalahan sebuah sistem.

Apakah pendidikan di Indonesia akan terus seperti ini? Yang dipentingkan adalah nilai, nilai, nilai, dan nilai. Cerdas saja tidak cukup tapi perlu ketelitian dan keterampilan.

Jangan salahkan para siswa ketika pengumuman kelulusan mencorat-coret seragam sekolahnya, konvoi ugal-ugalan, pesta seks bebas, pesta minuman keras, dan segenap perilaku negatif lain dalam merayakan berakhirnya masa studi di jenjang Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan.

Ini perlu evaluasi besar-besaran terhadap sistem pendidikan di Indonesia. Siswa sekarang sudah tidak ada rasa hormatnya kepada guru. Guru sekarang banyak yang sudah tidak profesional, tidak telaten, tidak sabar, dan tidak inovatif. Orang tua sekarang banyak yang tidak mempedulikan perkembangan pendidikan anaknya ketika di sekolah.

Maka pendidikan di Indonesia untuk saat ini masih jauh dari apa yang dulu disampaikan oleh Bapak Pendidikan Nasional yaitu Ki Hajar Dewantara yang berbunyi:

"Pendidikan yaitu segala daya upaya untuk memajukan budi pekerti (karakter dan kekuatan batin), pikiran (intellect) serta jasmani anak-anak selaras dengan alam dan masyarakatnya.”

Tegal, 14 Mei 2016

*Penulis adalah guru SD di Kabupaten Tegal

Monday, 2 May 2016

Menyapa Menteri Anies Baswedan di Hari Pendidikan

Zia Ul Haq     01:24    
OLEH: AHMAD BAHRUDDIN

Kalau Paulo Freire yang lahir pada tanggal 19 September 1921 disebut-sebut sebagai tokoh pendidikan kritis dengan bukunya yang sangat terkenal Pendidikan Kaum Tertindas (Pedagogy of the Oppressed), Ki Hajar Dewantara yang lahir 31 tahun sebelumnya justeru besar karena melawan/mengkritisi pemerintah kolonial Belanda yang menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri kita sendiri yang telah dirampas kemerdekaannya, muncullah tulisan berjudul Als Ik Eens Nederlander Was yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Seandainya Aku Seorang Belanda. Suatu tulisan yang sangat terkenal dan membakar jenggot pemerintah Belanda sehingga membuat Ki Hajar Dewantara dibuang ke Bangka.

Kalau Ivan Illich yang lahir 36 tahun setelah Ki Hajar Dewantara sangat kritis pada konsep persekolahan yang kapitalistik dan terjebak pada komersialisasi pengetahuan, dengan bukunya yang sangat terkenal, Deschooling Society, yang diterjemahkan oleh Sonny Keraf dengan; Bebaskan Masyarakat dari Belenggu Sekolah, maka Ki Hajar Dewantara sudah mengkritisinya sekaligus mengajukan alternatif konsep 'taman' dan lahirlah 'Taman Siswa'.

Kalau Jean Piaget, Lev Vygotsky dan lain-lain yang terkenal dengan pemikiran constructivism-nya yang memposisikan siswa sebagai subyek yang membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal, pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan, dan mengharuskan guru untuk memfasilitasi proses pembelajaran, Ki Hajar Dewantara juga sudah mengajukan konsep yang komprehensif yang amat sangat terkenal; Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani. Artinya: dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan, di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide, dan di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik.


Artinya Ki Hajar Dewantara adalah praktisi sekaligus pemikir besar pendidikan yang sangat visioner bahkan berkesesuaian dengan era digital eranya para millennialis ini.

Anak-anak negeri sebagai warga penghuni era digital ini harus didorong untuk mengembangkan imajinasinya, didorong berfikir kritis transformatif pada segala hal yang dihadapi. Anak-anak harus diberi kesempatan untuk menyampaikan gagasan-gagasan inovatifnya, dan mendiskusikannya dengan teman-temannya. Negara harus memfasilitasi kebutuhan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan basis kecerdasan anak. Sehingga kedepan anak akan paham dan kenal potensi diri dan lingkungannya serta berkemampuan optimal mengelola sumberdaya lingkungannya (Local Living Context Based Learning).

Dalam berbagai kesempatan saya sangat setuju dengan ide mendikbud Anies Baswedan dg perubahan paradigma pendidikan. Beliau sampaikan (sebagaimana disampaikan oleh Harris Iskandar dirjen PAUD dan DIKMAS Kemendikbud) bahwa sudah saatnya kita semua mengubah metafor. Sistem pendidikan kita jangan lagi dilihat sebagai sistem industri, pabrik, production model, input-proses-output, tapi ibarat sebuah taman yang menyenangkan, seperti konsepsi Ki Hajar. Agak mirip dengan Kent Robinson yang memilih metafornya sistem pertanian organik. Untuk mengelola 'taman' yang baik, maka kita perlu merawat kesehatan tanaman dan tanahnya serta menjaga ekologi yang sesuai. Keren 'kan?!

Sayang, pada kesempatan hardiknas hari ini mendikbud Anies Baswedan sepertinya hanyut dengan ke-'berhasil'-an dirinya yang sudah mengembara jauh meninggalkan kampungnya. Beliau cenderung meromantisir 'kisah' si anak kampung yang pergi jauh meninggalkan kampung nya dan ketika kembali sudah menjadi 'orang' yang berilmu tinggi barangkali juga dengan jabatan tinggi, meskipun barangkali, sudah tidak kenal lagi kampung halamannya apalagi sampai detail potensi kampungnya sehingga bisa mengelola dan memberdayakan rakyat dan kampungnya sendiri.

Sayang, kawan Anies hanya menyapa mereka yang sedang mengembara menuntut ilmu, atau barangkali yang sedang menikmati beasiswa dari negara, dan sama sekali tidak menyapa anak-anak negeri anak-anak pedalaman yang tidak mendapatkan dukungan dari negara, yang sedang bergulat dengan sumberdaya desanya yang mestinya menjadi tumpuan sekaligus pertaruhan penyelamatan bangsa ini dari ketergantungan dan keterpurukan.

Selamat Maulid Ki Hajar Dewantara, Selamat Hari Pendidikan, dan selamat menghadapi tantangan besar yakni cara berfikir aparat negara yang kadang-kadang masih terbelakang.

Salam,
Bahruddin
Kalibening, 2 Mei 2016

*Penulis adalah penggerak Pendidikan Alternatif Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah Salatiga. Sumber: dinding facebook Ahmad Bahruddin.

Sunday, 3 April 2016

Tujuh Lembaga Pendidikan Ikatan Dinas Buka Pendaftaran 2016

Zia Ul Haq     18:41    
MADAARIS - Tahun 2016 ini, pemerintah membuka kesempatan kepada mereka untuk mengikuti seleksi menjadi siswa/taruna pada Kementerian/Lembaga yang mempunyai Lembaga Pendidikan Ikatan Dinas (LPID).
Pengumuman Resmi MENPAN
Sekretaris Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Dwi Wahyu Atmaji mengungkapkan, ada tujuh LPID yang membuka kesempatan 5.940 kursi calon siswa. Ketujuh LPID dimaksud adalah Politeknik Keuangan Negara (PKN) STAN, yang membuka kesempatan untuk 3.650 siswa.

Adapun LPID lainnya adalah Istitut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) dengan 900 kursi, Sekolah Tinmggi Ilmu Statistik (STIS) yang membuka 500 kursi,  Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD) yang mencari 300 calon siswa/taruna, 260 calon taruna Akademi Imigrasi (AIM) dan Poltekip, 250 orang untuk Sekolah Tinggi Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (STMKG), dan sebanyak 80 orang untuk Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN).

Atmaji lebih lanjut menjelaskan, bagi warga masyarakat yang bermaksud melakukan pendaftara dapat melakukan pendaftaran secara online melalui portal panseldikdin.menpan.go.id sesuai dengan jadwal. Informasi lengkap terkait dengan pendaftaran dapat diakses di portal masing-masing Kementerian/Lembaga Pendidikan Kedinasan yang akan dibuka mulai tanggal 15 Maret s/d 27 Mei 2016.

Dengan sistem pendaftaran terpadu ini, maka tidak ada satu orang atau pihak manapun yang dapat membantu kelulusan dengan kewajiban menyediakan uang dalam jumlah tertentu.

Ditambahkan, peserta hanya boleh mendaftar di salah satu dari 7 (tujuh) Kementerian/Lembaga Pendidikan Kedinasan. “Apabila mendaftar di dua atau lebih Lembaga Pendidikan, maka yang bersangkutan dinyatakan gugur,”  ujarnya di Jakarta, Senin (14/03).

Menurut Atmaji, peserta dapat mengikuti pendidikan apabila telah dinyatakan lulus keseluruhan tahapan seleksi.

Untuk pengangkatan menjadi CPNS,  dilakukan setelah dinyatakan lulus serta memperoleh ijazah dari Lembaga Pendidikan yang bersangkutan dan ditempatkan pada jabatan tertentu berdasarkan usulan dari Kementerian/Lembaga yang bersangkutan dan Pemerintah Daerah (yang melakukan pola pembibitan bagi lulusan STTD) berdasarkan formasi yang ditetapkan oleh Menteri PANRB. “Jadi, meskipun sudah diterima di lembaga  pendidikan ikatan dinas tersebut, tidak otomatis diangkat menjadi CPNS,” pungkas Atmaji.

Daftar ketujuh LPID  yang membuka  pendaftaran sebagai berikut  :

1. Kementerian Keuangan: Politeknik Keuangan Negara Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (PKN STAN) sebanyak 3.650 siswa (pendaftaran dibuka dari tanggal 21 Maret s/d 3 April 2016, pelaksanaan TKD dari tanggal 20 s/d 24 Juni 2016). Jadwal dan syarat pendaftaran PKN-STAN silakan lihat di: Pengumuman USM PKN-STAN 2016.

2. Kementerian Dalam Negeri: Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) sebanyak 900 siswa (pendaftaran dibuka dari tanggal 29 Maret s/d 19 April 2016, pelaksanaan TKD dari tanggal 9 s/d 13 Mei 2016). Jadwal dan syarat pendaftaran IPDN silakan lihat di: Pengumuman Penerimaan Calon Praja IPDN 2016

3. Kementerian Perhubungan: Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD) sebanyak 300 siswa pola pembibitan (pendaftaran dibuka dari tanggal 4 April s/d 27 Mei 2016, pelaksanaan TKD dari tanggal 9 s/d 10 Agustus 2016). Jadwal dan syarat pendaftaran STTD silakan lihat di: Pengumuman Sipencatar STTD 2016.

4. Kementerian Hukum dan HAM: Akademi Imigrasi (AIM) dan Politeknik Ilmu Pemasyarakatan (POLTEKIP) sebanyak 260 siswa (pendaftaran dibuka dari tanggal 21 Maret s/d 4 Mei 2016, pelaksanaan TKD dari tanggal 30 Mei s/d 3 Juni 2016). Jadwal dan syarat pendaftaran AIM dan POLTEKIP silakan lihat di: Pengumuman Penerimaan Calon Taruna AIM 2016 dan Pengumuman Penerimaan Calon Taruna POLTEKIP 2016.

5. Badan Pusat Statistik: Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) sebanyak 500 siswa (pendaftaran dibuka dari tanggal 1 Maret s/d 30 April 2016, pelaksanaan TKD dari tanggal 19 s/d 22 Juli 2016). Jadwal dan syarat pendaftaran STIS silakan lihat di: Pengumuman SPMB STIS 2016

6. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika: Sekolah Tinggi Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (STMKG) sebanyak 250 siswa (pendaftaran dibuka dari tanggal 21 Maret s/d 22 April 2016, pelaksanaan TKD dari tanggal 11 Mei s/d Selesai). Jadwal dan syarat pendaftaran STMKG silakan lihat di: Pengumuman PTB STMKG 2016.

7. Lembaga Sandi Negara: Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN) sebanyak 80 siswa (pendaftaran dibuka dari tanggal 15 s/d 30 Maret 2016, pelaksanaan TKD dari tanggal 15 s/d 22 April 2016). Jadwal dan syarat pendaftaran STSN silakan lihat di: Pengumuman SPMB STSN 2016.

*Sumber: Pengumuman Resmi Kemeterian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MENPAN)

Ini Dia Profil 18 Kampus Kedinasan yang Perlu Kamu Tahu

Zia Ul Haq     02:25    
MADAARIS - Apa bedanya ‘kedinasan’ dan  ‘ikatan dinas’? Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK) merupakan lembaga pendidikan tinggi negeri yang memiliki ikatan dengan lembaga pemerintah sebagai penyelenggara pendidikan. Sedangkan ‘Ikatan Dinas’ adalah fasilitas yang diberikan oleh beberapa PTK di mana lulusannya mendapat jaminan pekerjaan saat lulus, dan diangkat sebagai pegawai tetap di mana sebagian besar merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Bahkan untuk sebagian PTK, terdapat fasilitas pengangkatan sebagai CPNS walaupun mahasiswa yang bersangkutan belum menyelesaikan pendidikannya. Sebagian PTK juga bebas biaya pendidikan, ada juga yang memberikan fasilitas gaji atau uang saku kepada mahasiswanya, baik yang telah diangkat sebagai CPNS ataupun belum.

Jika ada pendapat bahwa semua PTK itu memiliki fasilitas ikatan dinas, pendapat itu salah. Namun, semua PTK memiliki akses jenjang karir sebagai pegawai di lembaga pemerintah yang membawahinya. Sehingga untuk sebagian PTK mewajibkan lulusannya mengikuti tes CPNS terlebih dahulu sebelum diangkat sebagai CPNS di lembaga pemerintah yang dimaksud.

Ini dia profil 18 perguruan tinggi kedinasan yang perlu kamu tahu, di antaranya ada yang menyandang status Ikatan Dinas.

1. Akademi Ilmu Pemasyarakatan

Akademi Ilmu Pemasyarakatan merupakan perguruan tinggi kedinasan yang terletak di bawah naungan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik indonesia. Akademi Ilmu Pemasyarakatan didirikan berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor : 270/164 tanggal 24 Oktober 1964. Akademi ini didirikan sebagai Kawah Candradimuka kader-kader Pemasyarakatan di Indonesia dan memiliki tugas pokok melaksanakan pendidikan pada jalur pendidikan profesional program Diploma III yang ditujukan pada keahliaan khusus di bidang Pemasyarakatan.
Akademi Ilmu Pemasyarakatann
Alamat: Jl Raya Gandul Cinere Jakarta Selatan.
Website : http://www.akip.ac.id

2. Akademi Militer RI (Akmil)

Akademi Militer (Akmil) adalah sekolah pendidikan TNI Angkatan Darat di Kota Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Akademi Militer mencetak Perwira TNI Angkatan Darat. Secara organisasi, Akademi Militer berada di dalam struktur organisasi TNI Angkatan Darat, yang dipimpin oleh Gubernur Akademi Militer yang saat ini dijabat oleh Mayjen TNI Hartomo, S.Ip. Wakil Gubernur Akademi Militer yang saat ini dijabat oleh Brigjen TNI Dudung Abdurrahman, S.E, M.M. Pendidikan Akmil ditempuh dalam 4 tahun. Dengan rincian Pendidikan Dasar Keprajuritan Chandradimuka yang dilaksanakan bersama taruna AAL dan AAU selama 1 tahun, tingkat I s/d tingkat IV selama 4 tahun. Taruna/Taruni Akmil berhak menyandang predikat sebagai Sarjana Terapan Pertahanan (S.ST.Han). Calon Taruna Akmil merupakan lulusan SMA atau MA (IPA dan IPS untuk Taruna, IPA dan IPS untuk Taruni). Akmil merupakan pendidikan ikatan dinas yang dibiayai oleh negara.
AKMIL Magelang
Alamat: Mako Jl. Gatot Subroto, Magelang, Jawa Tengah.
Website: www.akmil.go.id

3. Akademi Kepolisian RI (Akpol)

Akademi Kepolisian atau sering disingkat Akpol adalah sebuah lembaga pendidikan untuk mencetak perwira Polri. adalah unsur pelaksana pendidikan pembentukan Perwira Polri yang berada di bawah Kalemdikpol. Berdasarkan Peraturan Kapolri Nomor 21 Tahun 2010 Akpol bertujuan menyelenggarakan pendidikan pembentukan Perwira Polri tingkat Akademi. Lama pendidikan 4 tahun dengan output pangkat Inspektur Dua Polisi. Pendekatan pendidikan melalui metode pembelajaran, pelatihan dan pengasuhan.
AKPOL Semarang
Alamat: Jl. Sultan Agung No. 131 Candi Baru Semarang, Jawa Tengah.
Website: www.penerimaanpolri.go.id

4. Akademi Meteorologi dan Geofisika

Akademi Meteorologi dan Geofisika (AMG) adalah Perguruan Tinggi Kedinasan di lingkungan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), yang mempersiapkan kader tenaga ahli tingkat madya, guna mendukung tugas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika sebagai lembaga acuan utama di Indonesia dalam memberikan informasi meteorologi, klimatologi, geofisika, dan kualitas udara, yang secara teknis akademik, pembinaanya dilakukan oleh Menteri Pendidikan Nasional dan secara teknis operasional dilakukan oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.
Akademi Meteorologi dan Geofisika
Alamat: Jalan Perhubungan I no 5 Komplek Metro, Pondok Betung, Bintaro, Tangerang
Website : http://www.amg.ac.id

5. STT PLN

Sekolah Tinggi Teknik – PLN bernaung di bawah Yayasan Pendidikan dan Kesejahteraan - PT. PLN (Persero), didirikan untuk memenuhi kebutuhan tenaga-tenaga ahli yang terdidik, terampil dan profesional di bidang ketenagalistrikan. Dikeluhkan berbagai pihak, angkatan kerja lulusan pendidikan tinggi S1 keteknikan, kurang siap menghadapi tuntutan pekerjaan. Diperlukan pelatihan yang intensif agar yang bersangkutan dapat menjalankan peran yang diemban. Oleh sebab itu, STT-PLN mentargetkan dapat mencetak tenaga teknik yang  terampil, berdaya saing, unggul dan siap pakai, terutama di bidang energi dan ketenagalistrikan.
STT PLN
Alamat: Menara PLN, Jl. Lingkar Luar Barat, Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat – 11750, Telp. (021) 5440342, 5440344 Fax. (021) 5440343
Website : http://www.sttpln.ac.id

6. Sekolah Tinggi Multi Media Training Centre (MMTC) Yogyakarta

Multi Media Training Centre (MMTC) adalah lembaga penyelenggara pendidikan dan pelatihan milik pemerintah yang berdiri pada tanggal 31 Juli 1985. Sesuai dengan tuntunan jaman, maka kini MMTC telah menjadi Sekolah Tinggi Multi Media “MMTC” Yogyakarta (STMM MMTC), institusi pendidikan tinggi di bidang penyiaran dan multi media yang berada di bawah Kementerian Komunikasi dan Informatika RI. STMM MMTC menyelenggarakan 2 Jenis program pendidikan yaitu pendidikan kedinasan bagi aparatur pemerintah dan swadana bagi masyarakat umum.

Alamat: Jalan Magelang Km. 6 Yogyakarta 55284, Telp. (+62274) 623537, 7474201, 562513, 561531.
Website : http://www.mmtc.ac.id

7. STEM Akamigas

Sekolah Tinggi Energi dan Mineral (STEM “Akamigas”) merupakan Perguruan Tinggi Kedinasan di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia. STEM melaksanakan pendidikan pada jalur pendidikan profesional Program Diploma I, II, III dan IV yang ditujukan pada keahlian di bidang minyak dan gas bumi serta panas bumi.

Alamat: Jl Gajah Mada no. 38 Cepu, Kabupaten Blora, Telp (0296)421897
Website : http://www.akamigas-stem.esdm.go.id

8. Politeknik Keuangan Negara Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (PKN-STAN)

Politeknik Keuangan Negara STAN (PKN-STAN) adalah pendidikan tinggi kedinasan di bawah Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, Kementerian Keuangan Republik Indonesia, yang menyelenggarakan pendidikan Program Diploma Bidang Keuangan (Prodip Keuangan).
PKN-STAN
Alamat: Jalan Bintaro Utama Sektor V, Bintaro Jaya, Tangerang
Website : http://www.stan.ac.id

9. Sekolah Tinggi Transportasi Darat Jawa Barat

Sekolah Tinggi Transportasi Darat adalah perguruan tinggi kedinasan yang bernaung dibawah Kementerian Perhubungan. Cikal bakal Sekolah Tinggi Transportasi Darat bermula dari didirikannya Akademi Lalu Lintas (ALL) pada tanggal 8 September 1951 oleh Presiden Ir. H. Soekarno. Dengan alasan tertentu pada tahun 1964, ALL tidak dioperasikan atau tidak melakukan kegiatan. Dengan mempertimbangkan pertumbuhan lalu lintas, perkembangan teknologi transportasi jalan dan kompleksitas permasalahan lalu lintas jalan lahirlah gagasan untuk mengaktifkan kembali Akademi Lalu Lintas. Pada tanggal 5 Desember 1980, Akademi Lalu Lintas diaktifkan kembali dengan nama Balai Pendidikan dan Latihan Ahli Lalu Lintas Angkutan Jalan Raya (BPL-ALLAJR), namun masih disebut - sebut dengan nama Akademi Lalu Lintas. BPL-ALLAJR hanya menyelenggarakan program Diploma III Ahli LLAJR. Sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan kualifikasi tenaga ahli yang lebih tinggi serta perkembangan sistem pendidikan yang ada maka pada tanggal 10 Maret 2000, dengan Kepres No.41 Tahun 2000 status BPL-ALLAJR ditingkatkan menjadi Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD).

Alamat: Jl Raya Setu KM 3,5 Cibuntu Cibitung Bekasi Jawa Barat.
Website : http://www.sttd.wetpaint.com

10. Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS)

Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) merupakan perguruan tinggi kedinasan program Diploma IV, yang dikelola oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sejak tahun 1958, memanggil pemuda-pemudi terbaik Indonesia lulusan sekolah menengah umum jurusan IPA untuk dididik menjadi ahli statistik. STIS mengemban visi menjadi lembaga pendidikan tinggi kedinasan yang berfungsi untuk mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang statistika dan komputasi statistik dengan mendidik kader yang memiliki kemampuan akademik/profesional. STIS mempunyai dua jurusan: Jurusan Statistika (Ekonomi dan Sosial-Kependudukan) dan Jurusan Komputasi Statistik. Jurusan Statistika menghasilkan tenaga ahli statistik ekonomi serta tenaga ahli statistik sosial-kependudukan, dan Jurusan Komputasi Statistik menghasilkan tenaga ahli komputasi dan sistem informasi.Tenaga Pengajar merupakan lulusan perguruan tinggi dalam negeri dan luar negeri dengan jenjang S2 dan S3 Lulusan STIS mendapat gelar Sarjana Sains Terapan (S.S.T.).

Alamat: Jl. Otto Iskandar Dinata no. 64C Jakarta.
Website : http://www.stis.ac.id

11. Sekolah Tinggi Perikanan

Sekolah Tinggi Perikanan adalah sekolah tinggi negeri yang mendidik tenaga professional di bidang Perikanan darat dan laut. Sekolah ini di bawah naungan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Alamat: Jl. AUP, Pasar Minggu Jakarta Selatan.
Website : http://www.stp.dkp.go.id

12. Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung

Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung adalah perguruan tinggi kedinasan yang bernaung di bawah Kementerian Pariwisata & Ekonomi Kreatif sedang secara teknis akademis dibina oleh Kementerian Pendidikan Nasional. Program pendidikan yang diselenggarakan di STP Bandung adalah program yang menekankan pada pencapaian keterampilan dari sebuah ilmu. Pencapaian keterampilan tersebut diperkaya dengan Praktik Laboratorium, Studi Lapangan, dan Praktik Kerja Nyata. Cikal bakal Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung bermula dari didirikannya Sekolah Kejuruan Perhotelan (SKP) pada tahun 1959, yang merupakan sekolah kejuruan menengah atas kejuruan di bawah naungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1962, sekolah ini berubah menjadi sekolah kejuruan perhotelan dan perestoran (SKPP) di bawah departeman perhubungan darat. Sekolah ini mempunyai tiga jurusan yaitu Jurusan Hospitaliti, Jurusan Kepariwisataan dan Jurusan Perjalanan.

Alamat: Jl. Dr. Setiabudi 186, Bandung.
Website : http://www.stp-bandung.ac.id

13. Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia

Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia - Curug (STPI Curug) merupakan salah satu perguruan tinggi kedinasan yang berada di bawah Kementerian Perhubungan Indonesia. STPI Curug memiliki tugas dan fungsi mendidik putra-putri terbaik bangsa Indonesia untuk menjadi sumber daya manusia yang ahli dan terampil di bidang penerbangan, yang diakui secara nasional maupun internasional.

Alamat: Jl. Raya PLP Curug Tangerang Banten.
Website : http://www.stpicurug.ac.id

14. Politeknik Kesehatan Depkes Surabaya

Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan (Pusdiknakes) Departemen Kesehatan RI membuka dan melaksanakan Pendidikan Kedinasan Bidang Kesehatan baik dalam jenjang Pendidikan Menengah (JPM) seperti Sekolah Perawat Kesehatan (SPK), Sekolah Bidan, Sekolah Menengah Analis Kesehatan (SMAK), Sekolah Pengatur Rawat Gigi (SPRG), dll., maupun Jenjang Pendidikan Tinggi (JPT) seperti Akademi Keperawatan (Akper), Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL) dan emi Teknik Elektromedik (ATEM). Sekitar tahun 1989 Sekolah-sekolah Departemen Kesehatan yang tergabung pada Jenjang Pendidikan Menengah (JPM) dikonversi menjadi Jenjang Pendidikan Tinggi (JPT) yang disebut Akademi, seperti Sekolah Perawat dan Sekolah Bidan dikonversi menjadi Akademik Keperawatan dan Akademi Kebidanan, Sekolah Menengah Analis Kesehatan menjadi Akademi Analis Kesehatan, Sekolah Pengatur Rawat Gigi menjadi Akademi Kesehatan Gigi. Sekolah-sekolah Jenjang Pendidikan Menengah (JPM) yang dikonversi menjadi Jenjang Pendidikan Tinggi (JPT) kemungkinan untuk melembaga dirasakan banyak kesulitan, maka salah satu antisipasi yang terbaik pada saat itu agar efektif dan efisien adalah dengan dikembangkan kelembagaannya menjadi Politeknik Kesehatan Surabaya (Poltekkes) termasuk diantaranya adalah 13 Akademi Kesehatan yang ada di Jawa Timur melembaga menjadi Politeknik Kesehatan Surabaya.

Alamat: Jl. Pucang Jajar Tengah 56 Surabaya.
website : http://www.poltekkesdepkes-sby.ac.id

15. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN)

Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional adalah sebuah perguruan tinggi kedinasan di Indonesia yang diselenggarakan oleh Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia. STPN merupakan pendidikan tinggi yang telah cukup lama hadir di Indonesia dan telah meluluskan dalam bilangan ribuan mahasiswa yang kini tersebar di seluruh tanah air. Keberadaan STPN yang memiliki sejarah panjang sebagai Perguruan Tinggi sejak tahun 1963 dengan nama Akademi Agraria maka dapat digolongkan sebagai salah satu perguruan tinggi kedinasan tertua di Indonesia. Bila melihat dari kekhususan substansi pendidikannya yaitu Pendidikan Tinggi Pertanahan maka STPN merupakan satu-satunya perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan pertanahan secara terpadu, menekuni kekhususan bidang tersebut dan berusaha mengembangkannya sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan mandiri.

Alamat: Jl Tata Bumi 5 Gamping Sleman Yogyakarta.
Website : http://www.stpn.ac.id

16. Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS)

Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung adalah Lembaga Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK) yang didirikan pada 1 September 1964 oleh Departemen Sosial. Sekolah Tinggi ini menyelenggarakan Program Pendidikan Diploma 4 Pekerjaan Sosial. Sekolah Tinggi menghasilkan lulusan-lulusan kompeten dalam bidang Pekarja Sosial. Bertujuan menghasilkan Pekerja Sosial yang memiliki kompetensi dalam bidang Pengorganisasian Masyarakat (Community Organization), Pengembangan Masyarakat (Communilty Development), dan Analisis Kebijakan Sosial (Social Policy Analysis).

Alamat: Jl. Haji Juanda 367 Bandung.
Website : http://www.stks.ac.id

17. Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN)

Sekolah Tinggi Sandi Negara adalah sebuah perguruan tinggi kedinasan di Indonesia yang diselenggarakan oleh Lembaga Sandi Negara Republik Indonesia. STSN merupakan satu-satunya pendidikan tinggi persandian di Indonesia. STSN didirikan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan kualitas SDM aparatur bidang persandian yang mampu menjawab tantangan perkembangan teknologi informasi dan ancaman terhadap pengamanan informasi rahasia negara.

Alamat: Jl Raya Haji Usa, Desa Putat Nutug, Ciseeng, Bogor, Jawa Barat.
Website: www.stsn-nci.ac.id

18. Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN)

Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) adalah salah satu Lembaga Pendidikan Tinggi Kedinasan dalam lingkungan Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia, yang bertujuan mempersiapkan kader pemerintah, baik di tingkat daerah maupun di tingkat pusat. Pada 10 Oktober 2007, dalam sebuah sidang kabinet, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memutuskan untuk menggabungkan STPDN dengan Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) menjadi IPDN menyusul terungkapnya kasus kekerasan yang terjadi di STPDN.

Alamat: Jl Raya Jatinangor KM 20 Sumedang, Jawa Barat. Telp (022) 7798252
Website : http://www.ipdn.ac.id

Apabila ada perubahan atau perbedaaan informasi, maka yang berlaku adalah yang ada di website resmi. Karena status Ikatan Dinas pun bisa berubah-ubah sesuai kebijakan pihak terkait. Anda dapat melihatya langsung di masing-masing alamat website Perguruan Tinggi Ikatan Dinas di atas lalu cek status Perguruan Tinggi Ikatan Dinas tersebut. Bagaimana? Tertarik dengan salah satu sekolah di atas? Sesuai dengan minat pengabdianmu? Penasaran dengan program-progam perkuliahan dan status ikatan dinasnya? Langsung saja korek informasinya melalui situs resmi masing-masing. Semoga bermanfaat! [Madaaris]

© 2011-2014 Informasi Pendidikan Kita. Designed by Bloggertheme9. Powered by Blogger.